Sunday, 2 Muharram 1436 / 26 October 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Pendidikan Gratis Ribuan Santri

Wednesday, 07 January 2009, 23:46 WIB
Komentar : 0
Habib Sagaf Mahadi Binsyechbubakar sangat terobsesi untuk meningkatkan pendidikan Islam. Memiliki Pesantren Nurul Iman, yang lebih dikenal dengan nama Pesantren Habib Sagaf, di Parung, Kab Bogor, pria kelahiran Dompu, NTB, 58 tahun lalu itu, mencita-citakan pesantrennya akan dapat menampung 40 ribu santri secara cuma-cuma. Terletak di Desa Warujaya, sekitar 3 km dari pasar Parung, Ponpes Nurul Iman yang kini berusia lima tahun, sudah memiliki santri dan mahasiswa sebanyak 3.600 orang. 1.700 di antaranya adalah santri wanita. Bagaimana dengan biaya yang harus mereka tanggung? Habib menjelaskan bahwa seluruh biaya makan, asrama, dan pengobatan ditanggung pihak pesantren termasuk biaya operasi. Bahkan bagi mereka yang tidak mampu mendapat uang jajan Rp 500 per hari. Untuk menunjang kegiatan belajar, mereka pun mendapatkan subsidi buku-buku pelajaran. Bukan hanya itu, para santri juga mendapatkan biaya pulang saat liburan menjelang bulan Ramadhan. Mengingat banyaknya santri yang tiap hari harus diberi makan tiga kali sehari, tidak heran jika pesantren ini menghabiskan beras dua ton per hari. Habib Sagaf yang oleh para santrinya dipanggil Abah itu, mengemukakan, tiap hari ia harus mengeluarkan Rp 4 juta untuk membeli beras dan Rp 1 juta untuk lauk pauk. Biaya lain yang harus ia tanggung adalah gaji para guru, kuli dan tukang. ''Gaji guru di sini Rp 500 ribu per bulan. Mereka mendapatkan rumah, dan makan gratis,'' ujarnya. Jumlah guru seluruhnya 105 orang, terdiri atas 55 orang guru pesantren putri dan 50 orang guru pesantren pria. Untuk membayar tenaga kuli dan tukang berjumlah 35 orang, diperlukan rata-rata Rp 1 juta/hari. Sementara dia juga harus membayar biaya listrik tanpa ada keringanan dari PLN. ''Alhamdulillah, selama lima tahun ini tidak pernah kekurangan. Semua anak-anak tiap hari berdoa kepada Allah agar diberikan rezeki,'' tegasnya. Ketika ditanya dari mana ia memperoleh dana, Habib Sagaf menyatakan, ''Yang jelas tidak mendapatkan bantuan dari Departemen Agama dan Kedutaan-kedutaan Besar negara Islam.'' Perhatian pesantren ini juga diberikan kepada penduduk sekitarnya. Misalnya, ketika ada yang sakit atau meninggal dunia, juga dibantu. Meski memberikan pendidikan gratis, Ponpes ini tetap memperhatikan sistem pendidikannya. Yaitu, menerapkan metode belajar dengan cara santri membacakan sebuah kitab kuning berbahasa Arab, kemudian Habib menjelaskan isinya. ''Di samping bahasa Arab, para siswa mulai dari tingkat Tsanawiyah (SLTP), Aliyah (setingkat SMU), dan mahasiswa, juga mendapatkan pelajaran bahasa Inggris,'' ujarnya. Mereka pun dididik oleh tenaga-tenaga pengajar terbaik. Di antara dosen yang mengajar di Universitas Habib Sagaf, terdapat nama Prof Dr Hasan Ambary, guru besar bidang sejarah, dan Prof Dr Bachmid, lulusan Al Azhar. ''Istri saya sendiri, seorang warga Singapura, menjadi salah satu dosen di sini. Ia lulusan Cambridge, London,'' kata Habib. Memasuki kawasan pesantren yang saat ini luasnya mencapai 20 hektar, terdapat tempat-tempat di mana para santrinya diharuskan berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris. Kini juga tengah dipersiapkan lokasi yang siap dibangun untuk ruang kelas, masjid, dan berbagai fasilitas lainnya. ''Jumlah tanah seluruhnya 136 hektar, insya Allah nanti akan dapat menampung 40 ribu santri secara gratis.'' Ia menargetkan sebanyak itu karena menurutnya masih sangat banyak orang yang tidak mampu menyekolahkan putra-putrinya. Habib Sagaf secara terbuka mempersilakan Republika bersamanya melihat ke kelas-kelas yang ada. Seperti halnya ciri khas pesantren, para santri belajar tidak memakai bangku, tapi duduk di lantai. Karena itu, saat ini tengah dibangun gedung berlantai dua dengan dua belas kelas. Sementara untuk tempat istirahat, para santri tinggal di saung-saung sederhana yang mereka bangun sendiri. Hal ini terjadi mengingat besarnya minat dan jumlah masyarakat yang ingin belajar di ponpes tersebut. Melengkapi sebuah gedung asrama hasil dari bantuan seorang dermawan dari Malaysia, kini di antara beberapa bangunan yang tampak tengah dikerjakan adalah sebuah masjid berkapasitas sekitar 3.000 jamaah. Nantinya akan ada tiga buah masjid di pesantren pria. Sebuah masjid lainnya juga akan dibangun di tempat asrama putri. Di pesantren ini pergaulan antara pria dan wanita mendapatkan pengawasan ketat. Meskipun letaknya berdekatan, mereka tidak dapat saling bertemu. Di kedua asrama putra dan putri ini juga akan dibangun kolam renang. Masing-masing untuk pria dan wanita. Sejauh ini, olahraga untuk para santri pria adalah sepakbola dan bola basket. Sedangkan santri putri sehari-hari berolahraga aerobik. Di samping kegiatan pesantren, tiap Ahad pukul 08.00 - 10.00 di tempat ini juga diadakan majelis taklim yang tidak hanya dihadiri warga sekitar, tapi juga masyarakat dari Depok, Bogor, dan Jakarta. Cita-cita mulia Habib tak hanya ingin memajukan pendidikan umat. Ia bahkan terobsesi menyejahterakan kaum Muslim di sekitarnya dengan rencananya membangun sebuah rumah sakit. ''Insya Allah, kita nantinya juga akan membangun sebuah rumah sakit untuk para santri dan masyarakat sekitar dengan cuma-cuma,'' ujar Habib meyakinkan. Baginya, soal tanah tidak menjadi masalah, mengingat ia memiliki lahan seluas 136 hektar. Alwi Saha/dokrep/Februari 2004
Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api(HR. Tirmidzi)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Doyan Minum Soda Tampak Lebih Tua?
SAN FRANSISCO -- Sebuah studi menemukan minuman bersoda dapat membuat sel-sel tertentu dalam tubuh menua lebih cepat. Peneliti University of California, San Fransisco menyimpulkan...