Wednesday, 4 Safar 1436 / 26 November 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Pesantren Putri Mantingan, Mencetak Wanita Shalihah

Friday, 12 December 2008, 23:39 WIB
Komentar : 0
Tak banyak pondok pesantren khusus putri di Tanah Air. Satu dari yang sedikit itu adalah Pondok Pesantren Putri Gontor atau yang lebih populer dengan sebutan Pondok Putri Mantingan. Berdiri pada 31 Mei 1990, pesantren ini memang didirikan untuk menampung remaja putri yang ingin menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor. 'Pondok induk' yang terletak di Desa Gontor Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo memang tak menampung santri putri. Karena itulah lalu dibangun pondok pesantren putri yang letaknya sekitar 100 km dari Gontor, tepatnya yaitu di Sambirejo, Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Tak sulit menemukan lokasi pesantren yang terletak di lahan seluas 184 ha, 26 ha di antaranya sudah dibangun. Sebab pesantren ini terletak di sisi jalan raya provinsi yang menghubungkan Solo (Jawa Tengah) dengan Madiun (Jawa Timur). Dari arah Solo, pesantren ini terletak di sisi kanan jalan. ''Setelah 60 tahun pondok putra, banyak yang bertanya mengapa tak ada pondok putri,'' ujar Direktur Pondok Pesantren Putri Gontor, KH Sutadji Tadjuddin, MA ihwal didirikannya pesantren yang dipimpinnya itu. Wanita, papar kiai kelahiran Gontor ini, juga termasuk aset bangsa. Karena itu pondok putra merasa perlu mendirikan pesantren khusus putri. Lalu apa yang membedakan pesantren ini dengan pondok pesantren induknya atau bahkan pesantren putri lainnya? Kiai Sutadji mengatakan, di pesantren ini diajarkan tentang pelajaran kewanitaan yang tidak diperoleh di pesantren putri lainnya. Pelajaran kewanitaan itu antara lain tata busana, tata boga, tata rias, dan tata wisma. ''Pokoknya segala sesuatu yang bakal dihadapi santri jika terjun di masyarakat kelak, dipelajari di sini,'' paparnya kepada Republika. Ini misalnya pelajaran 'menjadi istri yang baik dan tanggung jawab terhadap suami' dan pelajaran 'menjadi wanita shalihah'. ''Ketika hamil apa yang mesti mereka lakukan, ketika melahirkan apa yang harus mereka kerjakan, semuanya diajarkan di sini,'' lanjut Sutadji yang memperoleh MA dari Al-Azhar Mesir. Menurut Sutadji pondok ini berupaya untuk mencetak wanita-wanita shalihah yang serba bisa. Menjadi ibu yang serba bisa. ''Dunia ini adalah permata. Dan sebaik-baik permata adalah wanita shalihah,'' ujar Sutadji mengutip sebuah Hadis Nabi SAW. Uniknya, semua pelajaran tentang kewanitaan ini dimasukkan dalam intrakurikuler, bukan ekstrakurikuler. Dan diperoleh santri dari kelas 1 sampai kelas 6. Untuk ini santri dibekali dengan buku keputrian atau buku nisa'iyah. Buku ini menurut Sutadji disusun dari hasil seminar tahun 1992 yang menghadirkan pembicara/peserta dari pesantren se-Jawa dan Madura. Saat ini Pondok Putri Mantingan memiliki 4.250 santri dengan ustadz/ustadzah sebanyak 315 orang, 12 orang di antaranya pria. Para santri tak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tapi juga datang dari mancanegara seperti dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, AS, dan Australia. ''Saat ini jumlah santri mancanegara ada 14 orang berasal dari delapan negara,'' ujar kiai yang mengambil S1 Ushuluddin di Madinah University, Arab Saudi. Agar santri tak banyak keluar pondok, seluruh kebutuhan santri dipenuhi oleh pondok. Baik kebutuhan pangan maupun kebutuhan sandang para santri semuanya dipenuhi oleh pondok melalui koperasi pelajar. ''Santri tak perlu pergi ke Sragen atau Solo --kota terdekat, Red-- untuk membeli kebutuhannya,'' tuturnya. Memang seluruh santri wajib tinggal di dalam pondok. Bahkan seluruh guru/ustadz juga wajib tinggal di dalam pondok. Para ustadz yang sudah berkeluarga tinggal di rumah berukuran 8x17 meter persegi. Mereka adalah alumni Pondok Gontor dengan tambahan pendidikan di berbagai negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan Pakistan. Setiap tahun pondok ini menerima santri baru sebanyak 900-1.000 orang. Tahun ini misalnya, pondok menerima 910 santri baru.
Mereka terjaring dari sekitar 1.500 calon santri yang mendaftar. Masa pendidikan di pondok yang dikenal dengan sebutan KMI (Kulliyatul Mu'allimat Al-Islamiyyah) selama 4 tahun untuk mereka yang lulusan SLTP/SLTA atau sederajat. Sedangkan bagi mereka yang lulusan SD/MI masa pendidikannya selama 6 tahun. Tak cuma pelajaran agama dan tentu saja pelajaran tentang kewanitaan seperti disebut di atas, santri juga menerima pelajaran umum layaknya pelajaran di tingkat SLTP dan SLTA seperti pelajaran matematika, fisika, biologi, dan kimia. Karena itu tak heran jika alumninya ada yang diterima di berbagai perguruan tinggi seperti di UGM, Unair, UI, dan UII. ''Tahun ini 12 orang alumni pondok diterima di Al-Azhar Mesir,'' ujar Sutadji.
Komentar Wali Santri
Pondok Putri Mantingan, dan Pondok Modern Gontor pada umumnya, menjadi pilihan orang tua untuk putra-putrinya dengan berbagai alasan. Maman R, misalnya, mengaku membawa anaknya ke Gontor dengan alasan ingin menjadikan anaknya anak-anak yang shalih/shalihah, jauh dari narkoba, dan hal-hal negatif lainnya. Pegawai PLN Bekasi ini mengirimkan dua anaknya ke Gontor. Satu di Pondok Modern Gontor I dan satu lagi di Pondok Putri Mantingan. ''Keduanya sama-sama kelas empat,'' ujarnya kepada Republika. ''Sewaktu saya dinas ke Palembang ada kekhawatiran anak-anak yang jauh dari orang tuanya. Dan alhamdulillah anak-anak mau ke Gontor,'' papar Maman yang mengaku mengadakan survei ke Gontor sebelum membawa anak-anaknya ke pondok. Sementara itu Masyitoh, guru SDN Sudimara 13 Ciledug, Tangerang mengaku memasukkan anaknya ke Gontor karena terkesan dengan alumni Gontor yang menjadi rekan kuliahnya di IAIN Jakarta (kini UIN Jakarta). ''Rekan-rekan saya yang alumni Gontor itu meski belajarnya santai tapi hasilnya lebih bagus ketimbang saya. Padahal saya juga alumni pesantren,'' ujar wanita yang juga alumni sebuah pesantren di kota Bogor. Kelebihan alumni Gontor lainnya, kata Masyitoh, adalah terletak pada kemandirian. ''Teman-teman saya itu lebih mandiri,'' ujar ibu yang kedua anaknya berada di Gontor, satu di kelas 6 Gontor I (Pusat) dan satu lagi di Gontor Putri Mantingan kelas 3. Hal senada dikatakan Kartiman. Menurut guru SD di Cimahi selatan, Bandung ini kemandirian adalah keutamaan pesantren ini. Karena itulah ia tak ragu-ragu membawa anaknya ke Pesantren Putri Mantingan. Selain itu, lanjutnya, pesantren ini juga mengajarkan kesederhanaan dan kedisiplinan. ''Kalau soal keilmuan saya kira sama dengan pesantren lain. Namun di sini lingkungannya sangat bagus.
Lingkungan yang bagus dapat membentuk watak anak yang bagus pula. Ini kelebihan Gontor dibanding dengan pesantren lainnya,'' ujar ayah yang baru saja membawa anaknya masuk ke kelas 1 Pondok Putri Mantingan. rus/dokrep/Desember 2002
Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu((QS. An Nisa 4 : 29).)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
BBM Indonesia Naik di Amerika Malah Turun, Mengapa?
WASHINGTON DC -- Sementara harga BBM di Indonesia naik, di Amerika Serikat harga BBM justru turun ke level terendah selama hampir lima tahun...