Ahad , 27 Maret 2016, 09:19 WIB

Ada Resah di 'Kampung Tua’ Luar Batang…?

Red: Muhammad Subarkah
Masjid Luar Batang, Jakarta Utara, Rabu (8/2). (Republika/Prayogi)
Masjid Luar Batang, Jakarta Utara, Rabu (8/2). (Republika/Prayogi)

''Ya saya sudah dengar sepekan silam..!’’ Pernyataan ini ditegaskan Anggota DPD RI (Senator) dari DKI Jakarta, Abdul Aziz Khafia ketika menjawab pertanyaan soal rencana penggusuran warga Kampung Luar Batang. Menurut dia warga kampung itu sudah resah dan bertanya-tanya mengenai nasib kampung dan keberadaan situs Masjid Luar Batang serta makam Habib Husein Alyadrus.

‘’Saya sudah dapat fotocopian surat camat Penjaringan yang meminta warga kampung pindah dari situ. Saya belum pelajari detilnya memang. Tapi bagi kami orang Betawi ini soal sangat serius,’’ kata Aziz, kepada Republika.co.id, Ahad (27/3).

Aziz mengatakan entah apa maksud dari penggusuran itu. Apalagi kemudian ada janji bahwa warga yang mempunyai tanah akan dibangunkan rumah susun.

‘’Saya bingung seolah-olah pemerintahlah yang memiliki tanah sehingga bisa berbuat apa saja di tanah warga. Ingat yang menguasai tanah itu negara. Bila ada pihak yang ingin memiliki tanah —baik pemerintah atau negara— harus mengajukan dulu permohonan ke negara, yakni Badan Pertanahan Nasional (BPN),’’ ujarnya.

Menurut Aziz, bagi warga Jakarta, khususnya Betawi, memang saat ini terasa ada usaha tersamar untuk memisahkan mereka dengan tanah kelahirannya dengan alasan proyek pembangunan penataan ibu kota. Dan yang terasa semakin aneh, mereka melihat konsep wajah Jakarta di masa depan akan dijadikan seperi Singapura atau kota-kota di Eropa.

‘’Pembangunan SIngapura telah memakan korban warga Melayu. Mereka kini terpinggirkan dan tak lagi warga dominan di Singapura. Nah, kalau lihat situasi sekarang ini terlihat akan ke arah sana dengan terus ‘mengusir’ warga Betawi ke luar Jakarta dengan berbagai macam alasan dan aturan. Inilah yang menggusarkan kami. Padahal janji Ahok yang saat itu berpasangan dengan Jokowi adalah ‘Membangun Tanpa Menyakiti’,’’ katanya.

Bagi warga Betawi, lanjut Aziz, kampung Luar Batang itu menjadi ‘paku’-nya Jakarta. Keberadaan sosok ulama baik yang hidup maupun yang sudah wafat seperti Habib Alaydrus sangat dihormati.’’Warga kampung dan masjid adalah satu kesatuan. Mereka tak bisa dipisahkan dengan hanya alasan proyek pembangunan yang bersfat materialistis semata.’'

‘’Ingat dulu di zaman Ali Sadikin ada proyek penataan kampung Muhammad Husni Thamrin. Jadi kampung-kampung di perbaiki, bukan digusur lalu di bikin rumah susun. Jakarta sampai kapanpun tak bisa disamakan dengan Singapura. Biarkanlah Jakarta menjadi ‘kampung besar’. Sayangnya konsep Bang Ali ini sudah tak dipahami oleh pemimpin yang sekarang,’’ tegas Aziz.