Rabu , 08 March 2017, 10:06 WIB

Di Gaza, Yousef Al-Khattab Temukan Cahaya Islam

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Mualaf (ilustrasi).
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika serial kartun produksi Amerika Serikat (AS) South Park menjadikan sosok Rasulullah SAW sebagai bahan guyonan dengan mengenakan kostum beruang dalam episode terbaru mereka, ada seorang pemuda yang sangat marah.

Pemuda tersebut bahkan secara spontan melontarkan pernyataan agar orang-orang di balik kartun itu berhati-hati karena bisa jadi mereka akan menjadi sasaran kemarahan umat Islam, seperti halnya sutradara Theo van Gogh di Belanda yang tewas ditikam.

Ucapan pemuda bernama Yousef al-Khattab itu kemudian ditulis berbagai media sebagai bentuk ancaman kelompok radikal Islam terhadap para kreator South Park. Bahkan, karena berita ini pula, produser film kartun tersebut menghapus edisi 'konyol-konyolan' itu.

Lalu, siapa Yousef al-Khattab?

Tak banyak yang tahu. Orang hanya melihatnya sebagai Muslim taat yang gampang tersulut emosinya jika nabinya dilecehkan. Yang sebenarnya, Yousef adalah seorang mualaf bernama asli Joseph Cohen. Ia dilahirkan di tengah keluarga Yahudi yang terbilang taat. Masa mudanya ia habiskan dengan menimba ilmu di sekolah-sekolah Yahudi.

Sebelum kembali tinggal di Amerika Serikat, Cohen adalah anggota kelompok garis keras Yahudi di Tepi Barat. Pada tahun 1988, dia memutuskan pindah ke Israel karena dorongan keyakinannya yang kuat pada ajaran Yahudi. Selama bermukim di Israel, ia tinggal di permukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza. Di sana, ia aktif memperjuangkan perluasan permukiman Yahudi di negara itu. Dia secara rutin mengikuti kelas yang diselenggarakan oleh seorang rabi ortodoks di kotanya.

Di Kota Gaza ini pula, Cohen bertemu dengan sang istri, Luna Mellul, yang dinikahinya pada tahun 1991 silam. Seperti halnya sang suami, Luna merupakan pemeluk Yahudi yang taat. Pada masa lalu, wanita yang berasal dari Tetouan, Maroko, ini dikenal aktif dalam berbagai acara seminari yang digagas oleh kelompok Yahudi Ortodoks.

Berita Terkait