Minggu, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Minggu, 6 Sya'ban 1439 / 22 April 2018

Sejak Awal William Percaya Yesus Bukan Anak Allah

Senin 12 Oktober 2015 17:00 WIB

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko

Mualaf (Ilustrasi)

Mualaf (Ilustrasi)

Foto: Arabnews.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  William mulai melirik Islam. Dia membaca informasi di Wikipedia terkait prinsip-prinsip keimanan, mencoba memahami aturan, apa yang harus dilakukan, dan mana saja yang dilarang. Dia lantas jatuh cinta dengan agama ini. William pikir, banyak aturan itu yang masuk akal dan dia sepakat.

Misalnya, soal konsep ketuhanan. William sejak awal sudah percaya bahwa Yesus bukan anak Allah, bahkan bukan Allah. Dia hanya seorang guru, seorang guru yang harus kita teladani. Jadi, gagasan Yesus sebagai seorang nabi atau utusan Allah sangat tidak asing buat dia. Sesuatu yang memang dia yakini selama ini.

Detik itu juga, William memutuskan untuk mengambil Alquran. Dia mulai membaca lembar demi lembar. "Ini menakjubkan. Kitab ini menjelaskan segala sesuatu yang saya cari. Saya sepakat dengan keseluruhan ini," ujar William.

Keyakinan itulah yang menuntun William memutuskan masuk Islam. Ada sebuah masjid di samping sekolah.

Lelaki itu memilih mengikrarkan syahadat di sana.

 Selain dia tidak tahu lokasi masjid lain di Dallas, masjid itu paling mudah dijangkau karena dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki sewaktu istirahat sekolah. "Tidak ada yang tahu kapan dipanggil Allah SWT. Jadi, saya terus manfaatkan kesempatan untuk belajar dan mengimplementasikannya," aku Wiliam.

Ketika William menyampaikan kepada orang tuanya perihal keislamannya, mereka sama sekali tidak memper- masalahkan. Mereka justru antusias dengan keputusan putranya. Keduanya bergelut di bidang medis, sehingga sering terpapar dengan berbagai kelompok etnis dan agama yang berbeda. Tak terkecuali, Muslim.

Kedua orang tuanya menyukai gagasan keislaman William lantaran mengira itu akan membantu putra mereka lebih peduli dan mencintai sesama. Waktu itu, William mengakui, dia termasuk orang yang benci pada orang lain (misanthrope). Tak heran bila orang tuanya bersemangat melihat William terketuk untuk memeluk suatu agama.

"Hal utama yang berubah ketika saya masuk Islam adalah sekarang saya menikmati membantu orang banyak.

Kepedulian saya dengan orang-orang jauh lebih besar daripada yang saya miliki sebelumnya," ucap lelaki itu.

William tidak ingin mengatakan bahwa dulunya dia membenci orang lain, tapi dia dulu cenderung untuk tidak memercayai orang. Dia relatif introver. Juga lebih egois.

Kini, sejak masuk Islam, dia belajar untuk mencintai orang lain. Belajar untuk peduli pada mereka. Belajar membantu mereka. Dan, yang terpenting, William mendapat kebahagiaan dari tindakannya membantu orang lain. "Jadi, buat saya, saya pikir ini perubahan terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya," katanya

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES