REPUBLIKA.CO.ID, -- Berawal dari situ, Susan bertekad bulat untuk memeluk Islam. Satu kebohongan besar yang terpaksa ia lakukan adalah merahasiakan keislamannya dari keluarga dan teman-temannya, terutama sang ibu.
Namun, takdir berkata lain. Rahasia yang ditutupinya rapat-rapat terbongkar juga ketika ibunya mengadakan jamuan makan malam dengan menu hidangan utama daging babi.
''Saat itu, saya mengalami dilema, antara mesti mengumumkan soal keislaman saya atau memakan makanan haram itu,'' ujar Susan mengenang peristiwa itu.
Dalam kebimbangan tersebut, ia pun berterus terang. Tanpa disangka, reaksi yang ditunjukkan ibunya sungguh membuatnya terkejut. Bukan kemarahan dan cacian, melainkan tangisan dan pelukan erat dari sang ibunda yang diterimanya.
Selang beberapa hari setelah insiden makan malam tersebut, istri dari Waleed Ali ini kemudian memutuskan mengenakan jilbab. Menurutnya, menutup kepala merupakan kewajiban bagi seorang Muslimah. Karena, hakikatnya, Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia.
Bagi Susan, banyak manfaat yang dirasakan dengan menutup aurat. Selain sebagai sebuah peringatan agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya, juga menjadikan wanita Muslim sebagai duta Islam, ujarnya.
Dengan memeluk Islam, perjalanan hidup yang dilalui Susan tidaklah semudah yang dialami segelintir mualaf yang bernasib baik. Susan sering berhadapan dengan kemarahan khalayak ramai.
Tak hanya itu, ia pun dijauhi teman-temannya. Bahkan, Susan juga kerap mendapatkan penghinaan di depan umum terkait dengan jilbab yang menutupi kepala dan rambutnya.
Kini semuanya berubah. Setelah sembilan tahun berislam, Susan mempunyai teman-teman yang bukan saja berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga dari non-Muslim.
Dengan busana Muslim yang membalut tubuhnya, ia bebas mengajak anaknya berjalan-jalan di taman kota ataupun bermain di dekat danau, tempat semasa kecil ia sering diajak ibunya untuk memberi makan bebek.
Begitupun ketika ia pergi mengajar ke kampus dengan mengendarai VW Bettle warna merah muda yang biasa disapanya dengan panggilan Gus, tidak ada lagi tatapan sinis dari orang-orang di sekelilingnya.
n