REPUBLIKA.CO.ID, Bagi Yeanny, ajaran Islam mengatur umatnya dari segala sisi kehidupan. Tak ada yang membingungkan.
Melaksanakan shalat untuk pertama kalinya sangat berkesan bagi Yeanny. Awalnya, ia masih sering khawatir apakah gerakan dan bacaan shalatnya sudah benar atau belum. “Saat itu saya masih pakai bahasa Indonesia ketika shalat," kisahnya.
Hal berkesan lainnya, ketika dia melaksanakan puasa untuk pertama kalinya. "Menyenangkan, berpuasa itu menahan emosi, itu terasa sekali," katanya. Meski pertama kali melakukannya, ia bisa berpuasa sebulan penuh saat itu.
Tidak mudah
Namun, mengubah kebiasaan hidup sebagai seorang Muslim bukan perkara mudah. "Perubahan tidak kayak bunglon. Bentuk hidup yang dibuat sejak kecil tidak mudah diganti begitu saja. Perjalanan menuju Muslim hakiki masih jauh. Saya terus belajar," ungkapnya.
Beruntung, sang suami banyak membantunya untuk mempelajari Islam lebih jauh. Walau tak berlatar belakang pendidikan filsafat atau keislaman, tetapi suaminya memiliki fondasi Islam yang kuat.
Kepada sang istri yang mualaf, ia memberikan contoh-contoh yang baik. Sang suami pula yang mengajarinya membaca Alquran. “Ia tidak menggurui.”
Diakui Yeanny, tak semua orang terdekatnya mendukung keputusannya menjadi Muslim. Sang ibunda, misalnya, sangat menentang keislamannya. Ia adalah anak bungsu dan diharapkan bisa mengurus kuburan ibunya. Ia pun menjadi harapan sang mami. Sebab, kedua kokonya (kakak) juga masuk Islam walau mereka berjauhan.
Kecaman juga datang dari keluarga ibu Yeanny. Ia ditentang dan diejek oleh keluarga ibunya. “Mereka bilang banyak orang Muslim yang jahat, teroris, atau menjadi gembel,"katanya.
Tetapi, Yeanny berusaha sabar dalam melalui semua cobaan tersebut. "Alhamdulillah, saya bisa melaluinya. Ini berkat kekuatan doa, sabar, dan ikhlas berserah diri.”