
REPUBLIKA.CO.ID, Dorongan pada Islam memuncak saat ia menemani salah seorang temannya shalat di sebuah masjid.
Tanpa berbasa-basi, Steven pun mengungkapkan keinginannya pada temannya. “Aku bilang, aku mau masuk Islam. Begitu saja,” tuturnya.
Namun, semua tak berakhir di situ. Steven tak segera lega setelah bersyahadat, karena keluarga besarnya menentang keyakinan barunya itu.
“Ya, seperti banyak kasus mualaf lainnya, aku harus menghadapi kemarahan besar keluarga, dan kemudian diusir. Yah, itu masa lalu,” tutur Steven singkat, tak ingin membahasnya lebih jauh.
“Yang jelas,” tambahnya, “Aku sempat merasakan hidup di jalanan setelah itu.”
Semua terasa lebih baik beberapa lama kemudian. Meski harus menandatangani surat yang ‘membebaskan’ dirinya dari segala bentuk warisan keluarga, hubungan Steven dengan keluarganya membaik.
“Aku tetap berusaha melakukan apa yang baik untuk menghormati orang tua dan keluargaku, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam,” ujar sulung dari lima bersaudara itu.
Di samping itu semua, Steven menyimpan sederet pengalaman ‘bodoh’ setelah bersyahadat. “Yang kutahu, Muslim harus menegakkan lima pilar agama, yakni rukun Islam. Selebihnya, kukira tak ada yang berbeda dengan aturan non-Muslim,” katanya.
Satu misal, Steven tak mengenal istilah haram. “Yang kutahu, Muslim tak boleh memakan daging babi dan anjing,” kata dia.
Karena itu, meski telah mendirikan shalat lima waktu dan kewajiban Islam lainnya, Ia tak meninggalkan kebiasaan lamanya, seperti mengunjungi diskotik dan meminum alkohol. Lucunya, meski mabuk saat pulang dari diskotik menggunakan taksi, ia masih mengingat bahwa ia berkewajiban menunaikan shalat Subuh. “Aku minta sopir taksinya mampir ke masjid yang kami lewati,” kenangnya sambil tersenyum.
Kebiasaan itu baru ditinggalkannya setelah seorang teman memberitahunya tentang larangan Islam. Pemahaman tentang pilar Islam selanjutnya ia peroleh saat menunaikan umrah pada 2003. “Pilar Islam sesungguhnya tidak hanya lima. Rukun Islam adalah lima pilar utama, ada banyak pilar lain yang kurang dipahami,” kata dia.
Masha Allah :-), sungguh ingin menghabiskan beberapa waktu bersama para mualaf ini dan mendengar cerita2 mreka. smoga Allah Swt selalu menguatkan iman orang2 yg baru mendapat hidayah dan smoga Allah Swt juga memberikan hidayah kepada orang2 lainnya yg belum mendapat hiayah.Amin
1 BalasanBetul sekali. ingin rasanya bisa sharing banyak dengan mereka. Bahkan, Aku sendiri merasa minder pengetahuan mereka ttg Islam mgkn lebih dalam dibandingkan diriku sndiri.