Kamis, 24 Jumadil Akhir 1435 / 24 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Inilah Tantangan Mualaf dalam Berdakwah

Senin, 18 April 2011, 15:54 WIB
Komentar : 1
RAHMAN SADLY/REPUBLIKA.CO.ID
Syamsul Arifin Nababan
Syamsul Arifin Nababan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Itu disadari betul oleh Syamsul Arifin Nababan sebelum mendirikan Pesantren Pembinaan Muafal Annaba.

"Yang namanya terjun di dunia dakwah, segala sesuatunya tentu tidak akan mulus-mulus. Semua Nabi mengalami hal yang sama," ujarnya kepada Republika.co.id, akhir pekan lalu.

Kondisi itu tak lantas menyurutkan langkahnya. Nababan meyakini keberuntungan yang dijanjikan Allah bagi siapa saja yang sungguh-sungguh dalam berjuang dan berkorban.

Ketika anda memutuskan masuk dunia dakwah anda akan mengalami cobaan yang berat. Saya sebagai orang yang berlatar belakang mualaf, menjadi dai, tentu lebih berat lagi tantangannya,” ujarnya.
 
Nababan menjelaskan para mualaf seperti dirinya yang segera terpanggil untuk berdakwah akan menghadapi dua tantangan yakni tantangan internal dan eksternal. Tantangan ekstrenal, kata dia, ada semacam kecurigaan  dari pemuka agama yang sebelumnya dianut bahwa umatnya yang dahulu akan menjadi ancaman.

“Bagi mualaf yang berdakwah, yang saya rsakan bobot tantangan sangat tinggi karena tahu seluk beluk agama sebelumnya sehingga kadang dipandang ancaman dari agama sebelumnya,” kata dia.

Secara internal, setiap mualaf yang berdakwah akan menghadapi prasangka negatif. Prasangka itu menurut Nababan muncul dengan mengacu pada kisah Snouck Hurgronje, islamologi asal Belanda yang menghancurkan umat Islam  lantaran  berpura-pura memeluk Islam.

Jadi, kata Nababan, ada semacam trauma yang akhirnya menyebabkan prasangka buruk kepada mualaf yang hendak berdakwah.  “Secara internal, cobaan yang kita hadapi adalah satu atau dua  Muslim yang mencurigai saya menyusup dalam umat Islam untuk merusak Islam,” ungkap dia.

Selama berdakwah, Nababan pun tak luput dari merasakan vonis prasangka itu. Namun,  tuduhan itu bukannya membuat dia kendur dalam berdakwah melainkan menjadi pelecut guna memperlihatkan kematangan komitmennya dalam berdakwah.

"Prasangka itu justru membuat saya begitu bersemangat untuk memperlihatkan komitmen dalam agama Islam. Ia mengaku tak terlalu khawatir dengan tantangan eksternal yang ia hadapi. "Yang penting, kita jangan sampai menyinggung agama lain, kita harus bijaksana," ujarnya Seperti dalam Alquran, ajakalah manusia ke dalam Islam dengan cara yang bijaksana."

 


Reporter : Agung Sasongko
Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Malu adalah bagian dari iman.(HR. Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Poer Minggu, 1 Mei 2011, 10:13
Belum apap apa, Departemen Agama RI sudah ngeluh soal dana pembinaan mualaf, terlalu kecil katanya, tapi gak di jelaskan program apa yg mau dilaksanakan..bgm kalau dari dana haji yg "mandeg" di dep agama tsb, 10% nya digunakan untuk pembinaan muallaf ?
  zuan Kamis, 21 April 2011, 13:23
maju terus ustd, mari perjuangkan syariah secara kaffah
  salim Senin, 18 April 2011, 18:24
sudah berapa orangkah yg anda jadikan muallaf tahun ini, dan tahun sebelumnya?

  VIDEO TERBARU
Tokoh Perubahan 2013, Inspirasi Indonesia
JAKARTA -- Republika menganugerahkan gelar Tokoh Perubahan 2013 kepada beberapa tokoh yang memberi inspirasi pada Indonesia. Untuk tahun ini tokoh yang mendapat gelar...