Senin , 28 Februari 2011, 07:03 WIB
Kisah John Clenn Howell Menuju Islam (Habis)

'Saya tidak Agamis dan tak Pernah Menyangka Menjadi Religius'

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
JOHN CLENN HOWELL
John Clenn Howell
John Clenn Howell

REPUBLIKA.CO.ID, COLOMBUS, AS - Keingintahuan besar John Clenn Howell terhadap Islam terus mengusiknya. Ia tak sekedar bertanya tapi juga mengamati mereka. "Terlihat gamblang bagi saya bahwa ada yang salah dengan cara masyarakat memandang Muslim secara keseluruhan," tuturnya.

Hanya dengan obeservasi sederhana pria kelahiran 17 Oktober 1973 silam ini cukup yakin untuk menyimpulkan bahwa mayoritas besar Muslim adalah normal. Malah, ia menilai mereka sama sekali jauh dari potret fanatik haus darah yang kerap dimunculkan di televisi.

Mengingat dalam Muslim ada pula individu yang menyimpang, maka, ia berpikir Islam pun  bukan ajaran sesat. "Sama dengan Nasrani yang juga tidak terkait dengan ulah orang-orang semacam Timothy McVeigh, David Koresh dan Jim Jones,"

Rasa penasaran Howell berlanjut. Ia pun mulai membaca Al Qur'an dan diluar dugaan, banyak isi dalam kitab suci itu yang akrab baginya. "Ini sangat mengejutkan. Pasalnya ketika saya membuka Al Qur'an saya tidak berharap menemukan sesuatu yang saya kenali," tuturnya.

Islam, menurut Howell, sangat berbeda dengan yang ia sangkakan. "Saya langsung memahami dan sepakat dengan pilar utama yang merupakan pengakuan bahwa tidak ada sesuatu yang layak disembah selain Tuhan.

"Tiba-tiba saya meyakini semua penjelsan tentang Tuhan yang saya temukan di Al Qur'an. Di antara semua penjelasan yang paling mempengaruhi saya adalah kalimat dalam Surah Al Ikhlas," tuturnya.

Ia juga mengetahui bahwa Allah, dalam nama Arab adalah Tuhan yang sama yang diserukan para Nabi untuk disembah, Tuhannya Ibrahim, Musa, Jesus dan Muhammad saw. "Informasi yang mengungkap kebenaran Allah, ditambah dengan sebuah pernyataan dari Kitab-Nya memberi cukup alasan bagi saya untuk bertindak.

Pernyataan itu adalah, "Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribabah kepada Ku (Adh-Dhariyat 51:56)

Howel meyakini Islam adalah agama asli, mutlak, murni monoteisme dan menolak total bentuk-bentuk politeisme atau menyembah berhala atau dewa. "Sangat jelas sangat jelas bagi saya bahwa ini adalah satu-satunya jalan hidup sempurna bagi setiap manusia yang bebas dari unsur ras dan ideologi. Pencarian saya terhadap Kebenaran Universal menuntun saya kepada Islam,"

Pada 1999 ia mengambil keputusan besar. Ia memeluk Islam kala berusia 26 tahun. "Itu mengubah  hidup saya keseluruhan dan saya mulai mempraktekkan ajaran Islam langkah demi selangkah, sedikit demi sedikit,"

Awalnya ia tidak memberitahukan hal itu kepada teman-teman dekatnya karena takut menghadapi penolakan dan ejekan. Toh, akhirnya mereka mengetahui ketika ia mulai mengenakan baju-baju Muslim dan mulai menolak melakukan perbuatan buruk.

"Terus terang, saya terasing dari banyak orang. Saya biasa pergi dengan mereka, dan perubahan ini membuat saya berjarak dengan teman-teman," ujarnya.

Beberapa teman masih berhubungan--namun dengan sikap hati-hati. "Akhirnya setelah bertahun-tahun mereka yang benar-benar dekat tahu bahwa saya masih seperti  Howell yang dulu, akhirnya mereka menghormati keputusan saya apa adanya," tutur Howell kepada Republika.co.id lewat surat elektroniknya pekan lalu. 

"Saya memutus hubungan dengan masa lalu dan saya tidak lagi menoleh kebelakang. Saya berupaya sangat keras membersihkan diri," tuturnya. Howel mengakui itu adalah hal terberat baginya.

"Saya akui, gaya hidup sebelum masuk Islam bisa membunuh saya bila terus saya lanjutkan. Saya banyak bereksperimen dengan hal berbahaya, termasuk menggunakan obat dan narkotika ketika mencoba meluaskan kesadaran untuk mencari kebenaran," tutur Howell dalam suratnya.

Ia mengaku bukan orang yang religius. "Saya sendiri tidak pernah membayangkan diri saya bisa menjadi religius," imbuhnya.

Saat ini, menurut Howell, kesulitan paling nyata setelah memeluk Islam ialah berjuang mengatasi dirinya sendiri. "Butuh perjuangan mengubah kehidupan agar sejalan dengan Islam, terutama di negara non-Muslim dengan orang-orang yang jahil, tak peduli dan salah memahami Islam," ujarnya.

"Tapi bila anda bertanya kepada saya sepuluh tahun lalu, saya tak bisa berujar seperti ini," kata Howell. "Semua berubah menjadi lebih baik dari yang saya harapkan dan itu tidak lain karena Allah yang telah memandu saya. Saya sungguh bersyukur."

"Semua orang sama dan sederajat seperti gigi-gigi sisir," ujarnya membuat analogi. "Semua adalah anak cucu Adam dan diciptakan dari tanah. Tak ada yang superior, tak berlaku pada Arab dibanding non-Arab atau kulit putih terhadap kulit hitam, kecuali ketakwaan mereka," tegasnya.