Sabtu, 7 Safar 1436 / 29 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

KH Ahmad Asrori, Ulama Tasawuf nan Tawadhu (1)

Rabu, 02 Januari 2013, 17:52 WIB
Komentar : 0
myopera.com
KH Ahmad Asrori Al Ishaqi (tengah).
KH Ahmad Asrori Al Ishaqi (tengah).

REPUBLIKA.CO.ID, Boleh jadi, hanya sebagian umat Islam di Indonesia yang mengenal sosok KH Ahmad Asrori al-Ishaqi.

Namun, tidak bagi pengikut tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Bagi mereka, Kiai Asrori adalah sosok panutan yang sangat dihormati.

Semasa hidupnya, tokoh kelahiran 17 Agustus 1957 ini dikenal sebagai ulama sekaligus tokoh tasawuf terkemuka Indonesia yang dikenal hingga mancanegara.

Ia pun dikenal sebagai mursyid (pimpinan tarekat) dengan lebih dari 300 ribu pengikut tarekat di seluruh kawasan Asia.

Kiai Asrori adalah ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menguasai ilmu tasawuf secara mendalam. Ia mengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafi Al Fithrah yang bernaung di bawah Yayasan Al Khidmah.

Ponpes seluas tiga hektare di wilayah Kedinding Lor, Surabaya, Jawa Timur, itu menjadi pusat kegiatan dan kepengurusan tarekat Qadariyah Wa Naqsyabandiyah di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Kiai Asrori adalah putra KH Utsman al-Ishaqi. Sang ayah adalah salah satu dari tiga pimpinan tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Dua mursyid lainnya adalah KH Makki dari Karangkates, Kediri, dan KH Bahri dari Mojosari, Mojokerto.

Sepeninggal Kiai Utsman pada 1984, kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh Kiai Asrori. Estafet kepemimpinan tarekat kepada Kiai Asrori memang sesuai dengan wasiat Kiai Utsman.

Saat itu, Kiai Asrori berusia 30 tahun dan dinilai masih terlalu muda untuk menjadi seorang mursyid. Namun, berkat kecerdasan dan ketawadhuannya (rendah hati), ia berhasil menjalankan perannya sebagai pemimpin tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. Sikap istiqamahnya menjadi panutan jamaah tarekat dari seluruh dunia.

Di bawah kepemimpinan Kiai Asrori, tarekat Qodariyah Wa Naqsyabandiyah berkembang pesat, terutama di Indonesia. Terlebih, setelah dua kepemimpinan tarekat di Kediri dan Mojokerto mulai terseret dunia politik.

Tarekat Qadariyah Wa Naqsyabandiyah pimpinan Kiai Asrori pun menjadi alternatif di kalangan penganut tarekat karena dianggap lebih netral dan mengayomi umat.








Reporter : Amri Amrullah
Redaktur : Chairul Akhmad
Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar bin Khattab RA berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Alquran, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.”(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Menang Besar Garuda Tetap Tersingkir, 'Sakitnya tuh Disini'
HANOI -- Meski menang besar atas Laos (5-1), Indonesia tetap tak lolos ke babak semifinal Piala AFF 2014. Hal ini lantaran Vietnam berhasil...