Sunday, 14 Rajab 1436 / 03 May 2015
find us on : 
  Login |  Register

KH Muntaha Al-Hafidz, Sang Maestro Alquran (2)

Wednesday, 19 December 2012, 21:30 WIB
Komentar : 0
blogspot.com
KH Muntaha al-Hafidz.
KH Muntaha al-Hafidz.

REPUBLIKA.CO.ID, Seperti kebanyakan ulama NU, Kiai Muntaha pun menghabiskan banyak waktu untuk memperdalam ilmu agama dengan berkelana ke sejumlah pesantren.

Ia terlahir dari keluarga santri. Ayahnya adalah KH Asy'ari bin KH Abdurrahim bin K Muntaha bin K Nida Muhammad.

Sementara, ibunya bernama Hj Syafinah. Sang ayah merupakan generasi kedua pengurus Ponpes Al-Asy'ariah. Adapun generasi pertamanya adalah Kiai Abdurrahman, sang kakek yang merupakan ulama seperjuangan dengan Pangeran Diponegoro.

Seperti kebanyakan ulama NU, Kiai Muntaha pun menghabiskan banyak waktu untuk memperdalam ilmu agama dengan berkelana ke sejumlah pesantren.

Dalam hal ini, peran sang ayah sangat besar. Dari ayahnya, Muntaha kecil mendapatkan bekal pertama untuk mengakrabi Alquran.

Setelah memperoleh bekal keilmuan dari sang ayah, Muntaha mulai berkelana. Pendidikan formal agamanya diawali sebagai santri di Darul Ma'arif, Banjarnegara. Pengasuh perguruan ini adalah Syekh Muhammad Fadhlullah as-Suhaimi yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Muntaha.

Tamat dari Darul Ma'arif, Muntaha mondok di Pesantren Tahfidzul Qur'an Kaliwungu, Kendal. Di tempat ini, ia dibimbing langsung oleh KH Utsman dan berhasil menghafal Alquran. Saat itu, Muntaha masih berusia 16 tahun.

Meski telah hafal Alquran, bukan berarti perjalanan Muntaha dalam menuntut ilmu, berhenti. Sejarah mencatat, ia kemudian berguru kepada Kiai Munawwir Alhafidz di Pondok Pesantren Krapyak.

Dari Krapyak, ia nyantri di Pesantren Termas, Pacitan. Di pesantren ini, ia mendalami ilmu hadis, fikih, dan tafsir di bawah asuhan Kiai Dimyati yang banyak melahirkan ulama besar di negeri ini.

Sebuah catatan menyebut, Muntaha memiliki kebiasaan yang jarang dilakukan orang lain, utamanya dalam menempuh perjalanan menuju pesantren yang akan menjadi tempatnya belajar.

Kebiasaan yang dimaksud adalah berjalan kaki menuju Pesantren Kaliwungu, Pesantren Krapyak hingga Pesantren Termas. Hal unik ini dilakukan semata-mata untuk mempertegas keikhlasannya dalam mencari keberkahan ilmu.

Berjalan kaki  menuju pesantren-pesantren tersebut tentu butuh waktu cukup lama. Nah, saat beristirahat di perjalanan, ia selalu berusaha memanfaatkan waktu untuk mengkhatamkan Alquran.



Reporter : Mohammad Akbar
Redaktur : Chairul Akhmad
Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
'Penghargaan Bukan Dibanggakan Tapi untuk Berbuat Lebih Baik'
JAKARTA -- Nurdin Abdullah sangat mengapresiasi penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2014 yang didapatnya. Bupati Bantaeng ini sangat berterimakasih kepada Republika atas award yang...