Jumat, 6 Safar 1436 / 28 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Aliran Ingkarus Sunnah (2)

Senin, 19 November 2012, 21:36 WIB
Komentar : 2
blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Kelompok Ingkar Sunnah yang muncul pada masa Imam Syafi'i tersebut sulit diidentifikasi karena Imam Syafi'i sendiri tidak menjelaskan siapa kelompok pengingkar sunah yang dihadapinya.

Muhammad Khudari Bek (ahli fikih kontemporer dari Mesir) mempunyai asumsi bahwa kelompok ingkar sunah yang muncul saat itu berasal dari kalangan teolog Muktazilah (salah satu aliran dalam teologi Islam yang dikenal bersifat rasional dan liberal).

Asumsinya ini muncul berdasarkan isyarat Imam Syafi’i yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari Basra (Irak).

Sebagaimana diketahui dalam sejarah, Basra saat itu merupakan pusat kegiatan ilmiah, terutama dalam bidang ilmu kalam.

Dari kota inilah berkembang dan bermunculan tokoh-tokoh Muktazilah yang menempatkan akal pada posisi yang tinggi sehingga mereka disebut kaum rasional. Mereka mengkritik Ahlu Sunnah yang hanya berpegang pada Alquran dan hadis, dan kurang mempergunakan nalar dalam menetapkan suatu hukum.

Berbeda dengan asumsi Imam Muhammad Abu Zahrah (wafat  1394 H/ 1974 M) ahli fikih, usul, fikih, dan kalam dari Mesir). Menurutnya, kelompok Ingkar Sunnah yang muncul pada masa Imam Syafi'i itu adalah orang-orang Zindik yang secara lahiriah mengaku beragama Islam, tetapi batinnya hanya ingin menghancurkan Islam, dan mereka bukan dari kalangan Muktazilah.

Penolakannya terhadap asumsi Khudari Bek itu berdasarkan kenyataan bahwa kaum Muktazilah sendiri tetap mengakui dan menerima hadis-hadis Rasulullah SAW sebagai sumber ajaran Islam.

Menurut Abu Zahrah, selain kaum Zindik, diasumsikan bahwa sebagian mereka ada yang berasal dari kalangan Khawarij, yaitu aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia Islam.

Setelah Imam Syafi'i melakukan pembelaan terhadap hadis dengan mengemukakan berbagai argumentasi, baik secara nas maupun logika, para pengingkar sunah menghilang, suara-suara mereka tidak lagi terdengar dalam diskusi-diskusi tentang ajaran Islam. Gerakan mereka terbendung untuk kurun waktu yang cukup panjang.



Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Tahun 2015 MLS Bertabur Bintang
WASHINGTON DC -- Setelah David Beckham bermain di MLS selama tahun hingga 2012, Thierry Henry yang masih bermain hingga saat ini, tahun 2015...