Kamis, 23 Zulqaidah 1435 / 18 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Islam dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (1)

Selasa, 13 November 2012, 14:10 WIB
Komentar : 1
jakarta.go.id
Suasana rapat pembahasan Piagam Jakarta.
Suasana rapat pembahasan Piagam Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, Politik Kolonial Belanda bukan saja merugikan umat Islam dalam politik dan ekonomi, tetapi juga dalam menjalankan ajaran agama mereka.

Karenanya, umat Islam termasuk golongan paling gigih menentang penjajahan.

Perang Paderi (1821— 1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1904), Perang Makassar (1666-1669), Perang Banjar (1859—1905) dan lainnya adalah perang umat Islam melawan Belanda.

Gema takbir menyertai perjuangan umat dalam Jihad fi sabilillah (perang di jalan Allah) ini. Umat Islam juga mendirikan partai-partai Islam sebagai wadah perjuangan menuntut kemerdekaan.

Perjuangan umat Islam berlanjut hingga masa Jepang. Jepang berusaha mengakomodasi dua kekuatan, nasionalis Islam dan nasionalis "sekuler”. Pada masa ini didirikan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menghimpun hampir seluruh potensi Islam.

Jepang menjanjikan kemerdekaan dengan mengeluarkan Maklumat Gunseikan No. 23/29 April 1945, tentang pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang menghasilkan rancangan UUD, dan Piagam Jakarta sebagai mukadimahnya.

Dalam Piagam Jakarta, pada prinsip ketuhanan terdapat anak kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Dengan prinsip ini umat Islam berharap dapat menjalankan syariat agamanya di dalam Indonesia merdeka.

Islam dalam Negara Indonesia Merdeka
Pada waktu proklamasi, dengan alasan menjaga keutuhan bangsa. Piagam Jakarta tidak digunakan. Akibatnya, ada sedikit rasa kecewa di sebagian umat Islam.

Sebagai konsesi atas kekecewaan itu. Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), pengganti PPKI, memutuskan berdirinya Kementerian Agama yang kemudian menjadi Departemen Agama pada 3 Januari 1946







Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Ensiklopedi Hukum Islam
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS:Al Baqarah 197)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Terapi Air Bantu Mobilitas Penyandang Difabel
WASHINGTON --  Tim riset di Human Performance Lab Middle Tennessee State University, tengah mengembangkan terapi air guna membantu mobilitas warga difabel. Pasien yang...