Rabu, 23 Jumadil Akhir 1435 / 23 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sejarah Liga Dunia Islam (1)

Selasa, 25 September 2012, 15:16 WIB
Komentar : 0
virtualholyquran.com
Lambang Rabithah Al-Alam Al-Islam (Liga Dunia Islam).
Lambang Rabithah Al-Alam Al-Islam (Liga Dunia Islam).

REPUBLIKA.CO.ID, Sejatinya, jumlah Muslim di sentero jagad raya telah mencapai 1,57 miliar jiwa. Secara kuantitas, umat Islam memang begitu besar.

Menurut data yang rilis The Pew Forum on Religion and Public Life, satu dari empat penduduk di muka bumi adalah Muslim. Sayangnya, dari segi kualitas, masih tertinggal dibandingkan peradaban yang lain.

Mayoritas umat Islam yang tersebar di negara-negara tertinggal dan berkembang masih dililit kebodohan dan kemiskinan.

Terlebih lagi, kondisi umat Islam dunia terkotak-kotak dan mengalami perpecahan. Tiap negara Muslim cenderung bersaing untuk memperebutkan pengaruhnya.

Terlebih, saat ini, negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Afrika tengah menghadapi masalah dalam negeri yang amat pelik. Libya diinvasi sekutu. Demo besar-besaran melanda sejumlah negara Muslim. Palestina masih terus dijajah Israel. Selama tak bisa bersatu, peradaban Islam sulit untuk bangkit.

Inilah salah satu tantangan yang dihadapi umat Islam. Salah satu lembaga atau organisasi yang diharapkan bisa mempersatukan umat Islam adalah Rabithah Al-'Alam Al-Islami atau Liga Dunia Islam.

Inilah organisasi Islam transnasional (internasional) nonpemerintah yang didirikan pada  Zulhijjah 1381 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Mei tahun 1962 M.

Organisasi itu terbentuk ketika terjadi krisis politik yang terjadi antara Arab Saudi dan Mesir. Kalangan intelektual, ilmuwan, dan politisi dari sejumlah negara Muslim pun bertemu dan berembuk untuk menggagas sebuah pertemuan darurat pada Musim Haji 1962. Pertemuan tersebut digagas oleh penguasa Arab Saudi, Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud.





Reporter : Nidia Zuraya
Redaktur : Chairul Akhmad
Sesungguhnya Allah SWT mengampuni beberapa kesalahan umatku yang disebabkan karena keliru, karena lupa, dan karena dipaksa (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan lain-lain)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar