Minggu, 2 Muharram 1436 / 26 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Membaca Alquran Saat Haid dan Nifas, Bolehkah ?

Sabtu, 25 Agustus 2012, 07:39 WIB
Komentar : 11
readquranbook.com
Alquranul Karim (ilustrasi)
Alquranul Karim (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syahruddin El-Fikri

Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan Muslimah yang sedang haid atau nifas membaca Alquran.

Haid dan nifas adalah sesuatu yang identik dengan wanita secara umum, termasuk Muslimah. Namun, banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana haid dan nifas itu?

Menurut sejumlah ulama, haid adalah darah yang keluar dari rahim dinding seorang wanita apabila telah menginjak dewasa (baligh). Dan haid ini pasti akan dialami seorang wanita pada masa-masa tertentu dalam setiap bulannya. Paling cepat satu hari dan paling lama 15 hari. Sedangkan yang normal sekitar enam hari atau seminggu.

Sedangkan nifas adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita karena melahirkan dan setelah melahirkan. Ia adalah sisa darah yang tersimpan pada masa hamil. Dan, masa yang paling lama menurut jumhur ulama adalah 40 hari.

Selama waktu itu, ia tidak diperkenankan mendirikan shalat dan berpuasa. Namun, bila darah telah berhenti sebelum 40 hari, maka ia berkewajiban segera mandi besar dan mengerjakan shalat.

Apakah wanita yang mengalami keguguran (janin) dari kehamilannya dan sudah tampak berbentuk manusia, dan setelah itu keluar darah juga dinamakan nifas? Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Sedikitnya ada dua pendapat yang berkembang.

Pertama, darah yang keluar akibat keguguran dan setelah keguguran itu, dinamakan nifas, apabila usia kandungan berusia tiga bulan dan paling sedikit 81 hari. Wanita yang mengalami hal ini tidak wajib shalat dan puasa. Namun, bila keguguran itu terjadi pada bulan ramadlan, maka wanita tersebut memiliki kewajiban untuk membayar sisa puasa yang belum dikerjakan saat dia mengalami keguguran.

Kedua, jika wanita yang hamil keguguran dengan janin masih berbentuk daging dan belum tampak tubuh manusia, maka darah yang keluar setelah keguguran itu, tidak dinilai sebagai darah nifas. Wanita yang mengalami kondisi ini tetap harus melaksanakan shalat, puasa, sebagaimana kewajiban sebelumnya.

Dalam masa haid dan nifas itu, bolehkah seorang Muslimah membaca Alquran atau ayat-ayat Alquran? Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan  Muslimah yang sedang haid atau nifas membaca Alquran. Sebagian ulama mengharamkan, sebagian lagi membolehkan. Yang mengharamkan mengambil dalil (dasar hukum) surah Al-Waqiah [56] ayat 79. ''Tidak menyentuh (Alquran), kecuali hamba-hamba yang disucikan.''

Juga Hadis Nabi SAW; ''Janganlah kamu menyentuh Alquran kecuali dalam keadaan suci,'' (HR Al-Atsram).

Namun, empat Imam Mazhab (Maliki, Syafii, Hanafi, dan Hambali), berbeda pendapat mengenai kebolehan membaca Alquran. Mereka setuju, bahwa menyentuh Alquran tidak diperbolehkan, kecuali bagi orang-orang yang suci. Dengan alasan itu, maka orang yang dalam keadaan haid dan nifas tidak diperkenankan menyentuh Alquran.

Tapi, untuk membaca ayat Alquran, mereka membolehkannya, yakni membaca Alquran tanpa menyentuhnya. Misalnya, si wanita yang sedang haid atau nifas itu memiliki sejumlah hafalan ayat.

Sejumlah ulama Syafiiyah (ulama yang mengikuti mazhab Syafii), melarang wanita haid dan nifas membaca Alquran. Alasan yang dikemukakan, berdasarkan ayat Alquran surah Al-Waqiah [56]: 79 diatas. Menurut mereka, kalau menyentuhnya saja sudah dilarang, apalagi membacanya.

Sementara itu, sebagian ulama Hanafiyah berpendapat, membaca Alquran tetap diperbolehkan melalui hafalan atau cara lainnya, selama tidak menyentuh Alquran.

Sedangkan dalam masalah shalat dan puasa, seluruh ulama mazhab menyatakan tidak boleh (haram) bagi wanita yang sedang haid dan nifas untuk mengerjakan shalat dan puasa.Dasar hukumnya, hadis Nabi yang bersumber dari Fathimah binti Abi Hubaisy. ''Jika datang haid, maka janganlah engkau mengerjakan shalat.''

Dalam riwayat dari Aisyah Radiyallahu Anha; ''Kami hadis pada masa Rasulullah SAW, maka ketika itu kami diperintahkan untuk mengqadla puasa kami, tapi tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat kami.'' (Muttafaqun 'Alaih).

Berdasarkan keterangan di atas, maka Muslimah yang sedang haid dan nifas, tidak boleh (haram) mendirikan shalat dan puasa. Namun, jika mereka haid dan nifas pada bulan Ramadhan, maka dia wajib mengqadla (mengganti, red) puasa yang telah ditinggalkan. Wa Allahu A'lam.


Larangan Bagi Muslimah Saat Haid dan Nifas

a. Shalat (baik wajib maupun sunnah).

b. Puasa (wajib maupun sunnah).

c. Menyentuh Alquran.

d. Membaca Alquran, kecuali tanpa menyentuhnya.

e. Berdiam diri dalam masjid.

f. Thawaf.

g. Berhubungan badan.

h. Thalak (cerai).

Redaktur : Heri Ruslan
Tetangga adalah orang yang paling berhak membeli rumah tetangganya.((HR. Bukhari dan Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Doyan Minum Soda Tampak Lebih Tua?
SAN FRANSISCO -- Sebuah studi menemukan minuman bersoda dapat membuat sel-sel tertentu dalam tubuh menua lebih cepat. Peneliti University of California, San Fransisco menyimpulkan...