Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Piagam Madinah, Sistem Kehidupan Masyarakat Pluralis (6-habis)

Senin, 20 Agustus 2012, 19:35 WIB
Komentar : 1
blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

Gencatan senjata
Dalam Perjanjian Hudaibiyah, pihak Muslim dan kaum musyrik Makkah menyetujui adanya gencatan senjata selama sepuluh tahun.

Selama itu, kedua belah pihak tidak diperbolehkan menyerang satu sama lain. Semua orang dijamin keamanannya.

Isi perjanjian tersebut juga mengatur hubungan antara kaum Muslim dan musyrik. Di antaranya, apabila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Islam yang tidak memiliki izin walinya, ia harus dikembalikan kepada orang Quraisy.

Sebaliknya, bila ada pengikut Muhammad SAW (umat Islam) menyeberang ke pihak Quraisy, ia tidak akan dikembalikan kepada Muhammad SAW.

Selain itu, barang siapa yang hendak membuat perjanjian dengan Rasul SAW ataupun dengan pihak Quraisy dibolehkan.

Perjanjian tersebut juga menegaskan, jika kaum Muslim memasuki Kota Makkah, mereka tidak diperbolehkan membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya. Di samping itu, mereka juga tidak boleh tinggal di Makkah melebihi tiga hari tiga malam.

Mengetahui isi Perjanjian Hudaibiyah ini, banyak sahabat Rasul SAW protes karena merasa isinya sangat merugikan kaum Muslim. Namun, Rasulullah memiliki pandangan yang berbeda dengan sahabatnya.

Menurut Rasul SAW, orang yang menyeberang ke pihak Quraisy pasti orang murtad sehingga tidak ada gunanya dikembalikan kepada kaum Muslim.

Sementara itu, kaum Muslim yang tertindas di Makkah tidak perlu dikembalikan ke tengah-tengah kaum Muslim yang ada di Madinah karena Rasul yakin bahwa mereka tidak akan mudah dipaksa untuk pindah agama. Sebaliknya, mereka akan menyebarkan syiar Islam di Makkah.

Inilah salah satu bentuk toleransi dan penghormatan Islam terhadap umat lain yang berbeda keyakinan. Siapa yang mengkhianati peraturan tersebut, mereka harus siap menerima risikonya.



Reporter : Nidia Zuraya
Redaktur : Chairul Akhmad
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  abu umar Selasa, 21 Agustus 2012, 09:05
Untuk text alinia terakhir tidak sesuai dgn topik? Melenceng dr uraian alinia sebelumnya.