Minggu, 2 Muharram 1436 / 26 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Imam Bukhari: Pemimpin Kaum Mukmin dalam Ilmu Hadits (Bag 1)

Sabtu, 11 Agustus 2012, 05:27 WIB
Komentar : 0
uzbek-travel.com
Kota tua Bukhara, Uzbekistran.
Kota tua Bukhara, Uzbekistran.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Heri Ruslan

Amirul Mukminin fil Hadits.  Gelar itu didaulatkan para ulama kepada ahli hadits dari kota Bukhara, Uzbekistan.  Tak salah bila  ulama besar di abad ke-9 M ini ditabalkan sebagai “Pemimpin kaum Mukmin dalam Ilmu Hadits”. Betapa tidak. Hampir seluruh ulama merujuk kepada kitab kumpulan hadits sahih yang disusunnya.

Para ulama juga bersepakat, Al-Jami' As-Sahih atau Sahih Al-Bukhari -- kumpulan hadits sahih – sebagai “kitab paling otentik setelah Alquran”.  Sahih Al-Bukhari yang disusun ulama legendaris asal “kota lautan pengetahuan” -- Bukhara – itu juga diyakini kalangan ulama Sunni sebagai  literatur hadits yang paling afdol.

Sang ulama  fenomenal  itu mendedikasikan hidupnya untuk menyeleksi secara ketat ratusan ribu hadits  yang telah dihafalnya sejak kecil. Karyanya yang begitu monumental itu bak cahaya yang  telah menerangi  perjalanan hidup umat Islam.  Ribuan hadits sahih yang telah dipilihnya menjadi pedoman hidup umat Islam, setelah Alquran.

Ulama besar dan ahli hadits nomor wahid ini memiliki nama lengkap  Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Ibnu Al-Mughirah Ibnu Bardizbah Al-Bukhari. Ia lebih dikenal dengan nama tanah kelahirannya, Bukhara. Dan Masyarakat Muslim pun biasa memanggilnya Imam Bukhari. 

Pemimpin kaum Mukminin dalam Ilmu Hadits itu terlahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H bertepatan dengan 20 Juli 810 M. Sejak kecil Imam Bukhari hidup dalam keprihatinan. Alkisah, ketika terlahir ke dunia, Bukhari cilik tak bisa melihat alias buta. Sang bunda tak putus dan tak tak pernah berhenti  berdoa dan memohon  kepada Allah SWT untuk kesembuhan penglihatan puteranya..

Sang Khalik pun mengabulkan doa-doa yang selalu dipanjatkan ibu Imam Bukhari.  Secara menakjubkan, ketika menginjak usia 10 tahun, penglihatan bocah yang kelak menjadi ulama terpandang itu kembali normal. Imam Bukhari sudah akrab dengan ilmu hadits sejak masih belia. Sang ayah, Ismail Ibnu Ibrahim juga seorang ahli hadits yang terpandang.

Ismail merupakan  salah seorang murid ulama terpandang Hammad ibnu Zaid dan Imam Malik. Sang ayah tutup usia saat Imam Bukhari masih belia. Meski hidup sebagai seorang anak yatim yang hidup serba pas-pasan, Bukhari cilik tak pernah putus asa. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, tanpa merisaukan masalah keuangan.

Ilmu hadits telah membetot perhatiannya sejak kecil. Selain belajar Alquran dan pelajaran penting lainnya, ilmu hadits adalah favoritnya.  Sejak penglihatannya menjadi normal, dia sudah membaca karya-karya atau kitab hadits yang ada. Bahkan, menginjka usia 16 tahun, Imam Bukhari sudah mampu menghapal karya-karya Waki dan Abdullah ibnu Al-Mubarak.

“Sekali saja ia membaca buku, maka dia sudah hafal isinya,” papar Ibnu Katheer yang terkagum-kagum dengan daya ingat sang ahli hadits. Daya ingat dan kecepatannya dalam menghafal sunggung tiada dua, pada zamannya. Kekuatan intelektualnya sungguh sangat memukau dan menakjubkan.

Redaktur : Heri Ruslan
Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya(HR. Muslim, no. 2588)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Doyan Minum Soda Tampak Lebih Tua?
SAN FRANSISCO -- Sebuah studi menemukan minuman bersoda dapat membuat sel-sel tertentu dalam tubuh menua lebih cepat. Peneliti University of California, San Fransisco menyimpulkan...