Minggu, 26 Zulqaidah 1435 / 21 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Asal Mula Pensyariatan Azan (2-habis)

Jumat, 10 Agustus 2012, 22:50 WIB
Komentar : 0
Republika/Agung Supri
Seorang muazin saat mengumandangkan azan di salah satu masjid di Jakarta.
Seorang muazin saat mengumandangkan azan di salah satu masjid di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, Bilal bin Rabah (w. 20 H/641 M) diperintahkan Rasulullah SAW untuk menggenapkan bacaan azan dua-dua kali dan mengganjilkan bacaan ikamah, kecuali bacaan "qad qamatis salah (sesunguhnya salat akan didirikan)” yang harus dibaca dua-dua kali (HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik).

Pada hadis lain dikemukakan bahwa setelah jumlah umat Islam meningkat, ada yang memberitahukan waktu shalat dengan suatu cara yang biasa mereka kenal dan ada pula yang menyarankan dengan menyalakan api atau memukul lonceng.

Mendengar hal itu, Nabi SAW menyuruh Bilal menggenapkan bacaan azan dan mengganjilkan bacaan ikamah (HR. Anas bin Malik dari Ibnu Umar). Hadis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa azan berfungsi memanggil orang untuk melakukan shalat wajib lima kali sehari semalam.

Sementara untuk shalat jenazah dan shalat sunah lainnya, seperti salat Idul Fitri dan Idul Adha (salat id), salat kusuf dan khusuf (shalat gerhana), serta shalat istisqa, tidak dikumandangkan azan, namun diganti dengan kalimat 'as-shalatu jamiah'.

Ibnu Qudamah (ahli fikih Mazhab Hanbali) mengemukakan, disamping berfungsi sebagai panggilan untuk melakukan shalat berjamaah, azan juga dianjurkan untuk dikumandangkan kepada bayi yang baru lahir.

Rasulullah SAW sendiri melakukannya kepada cucunya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib. yang baru saja dilahirkan oleh Fatimah Az-Zahra (HR. Abu Dawud dan At-Tirmizi).

Dalam riwayat lain juga dikatakan, siapa saja yang melahirkan anak agar mengumandangkan azan di telinga kanan bayi dan ikamah di telinga kirinya agar ia terbebas dari godaan jin dan penyakit. (HR. Ibnu As-Sanni).




Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Ensiklopedi Hukum Islam
Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.(QS Al-Baqarah: 42)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gadai SK, Jadi Cerminan Masalah RUU Pilkada?
 MAKASSAR -- Belakangan ini banyak anggota DPRD terpilih yang menggadaikan SK. Terkaiy hal tersebut pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai itu sebuah hal...