Jumat, 6 Safar 1436 / 28 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kewajiban Zakat Fitrah (1)

Jumat, 10 Agustus 2012, 18:49 WIB
Komentar : 0
blogspot.com
Zakat fitrah (ilustrasi).
Zakat fitrah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Salah satu amalan yang semakin menyempurnakan Ramadhan ialah zakat. Zakat yang berarti tumbuh, bersih,dan baik itu, mulai diwajibkan secara legal formal sejak tahun kedua Hijriah ketika peradaban Islam kian stabil di Madinah.

Dinukilkan dari “Ensiklopedi Islam”, perintah berzakat memiliki kesejajaran dengan amar shalat. Ini dibuktikan dengan disandingkannya kata seruan berzakat dengan perintah shalat.

Bahkan sebanyak 26 kali, kata zakat dihubungkan dengan shalat. Ada banyak kategori zakat. Secara keseluruhan tersentralisasi dalam dua jenis utama, yaitu zakat fitrah dan zakat mal.

Zakat fitrah (zakat badan) ialah zakat yang diwajib kan pada akhir puasa Ramadhan. Kewajiban ini ditujukan bagi setiap individu Muslim yang mempunyai kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya.

Selain itu, zakat ini juga wajib dibayarkan untuk anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir Ramadhan dan hidup selepas terbenam matahari, mereka yang memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir Ramadhan dan tetap dalam Islamnya, dan seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan.

Zakat ini diberlakukan untuk tujuan yang mulia. Zakat fitrah bertujuan menyucikan orang yang berpuasa dari berbagai perkataan dan perbuatan kotor. Selain itu pula, zakat ini guna memberi makan pada orang miskin dan mencukupi kebutuhan mereka pada Hari Raya Idul Fitri.

Dasar diwajibkannya zakat fitrah ialah antara lain hadis riwayat Abdullah bin Umar bin Khathab. Hadis yang dinukil oleh para imam ternama itu, menyatakan bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat pada Ramadhan.

Kadar yang harus dibayar ialah satu sha’. Taksiran satu sha’ ialah (1 sha’ = 4 mud, 1 mud = 675 gram) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan pokok (tepung, kurma, dan gandum) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan. Ini sesuai dengan Mazhab Syafi’i dan Maliki.




Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Chairul Akhmad
Harta itu lezat dan manis, siapa yang menerimanya dengan hati bersih, ia akan mendapat berkah dari hartanya tersebut(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Kewajiban Muslim Penuhi Hak-Hak Binatang
JAKARTA -- Ketua Pemuliaan Lingkungan Hidup & SDA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Hayu Prabowo menuturkan sudah menjadi kewajiban seorang Muslim untuk...