Wednesday, 29 Zulqaidah 1435 / 24 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Yerusalem, Sejarah Kota Suci Ketiga (1)

Saturday, 04 August 2012, 18:08 WIB
Komentar : 0
blogspot.com
Ilustrasi Kota Yerusalem dalam sebuah lukisan.
Ilustrasi Kota Yerusalem dalam sebuah lukisan.

REPUBLIKA.CO.ID, Yerusalem. Inilah kota suci ketiga bagi umat Islam, setelah Makkah dan Madinah.

Di awal perkembangan agama Islam, Yerusalem menempati posisi yang sangat penting. Selama pe riode Makkah hingga satu tahun pas ca hijrah ke Madinah, kota itu sempat menjadi kiblat pertama bagi umat Islam.

Setelah itu, Rasulullah SAW memindahkan arah kiblat ke Masjid Haram, di Makkah. Pertautan Islam dengan Yerusalem juga tercatat dalam lembaran sejarah yang mahapenting, yakni peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW melalui Isra Mikraj itu sungguh amat istimewa. Sebab, lewat perjalanan itulah Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat.

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: Al-Israa: 1).

Yerusalem pun bertambah istimewa, lantaran di kota itulah beberapa rasul terdahulu menerima wahyu dari Sang Khalik. Syahdan, kali pertama Yerusalem dibangun Nabi Daud AS setelah menguasai kota itu dari masyarakat Yebusit. Nabi Daud lalu mengembangkan dan menjadikan Yerusalem sebagai ibukota kerajaannya.

Tahta kerajaan Nabi Daud lalu digantikan Nabi Sulaiman AS. Di kota itu, Nabi Sulaiman membangun sebuah Haekal atau Harem Syarif (tempat yang mulia) yang lengkap dengan singgasananya. Para ahli sejarah Yahudi menyatakan, Nabi Sulaiman membangun sebuah kuil yang bernama Baitallah.

Haekal atau Baitallah itu menjadi tempat beribadah umat Yahudi pertama yang indah dan megah. Di tengah Haekal itulah terdapat sebuah batu hitam bernama Sakhrah Muqaddasah. Berlandaskan batu itulah, Rasulullah SAW melanjutkan mikraj menghadap Sang Pencipta untuk menerima perintah menjalankan shalat.




Reporter : Heri Ruslan
Redaktur : Chairul Akhmad
Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah((HR Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Berperan Sebagai Djamin Ginting, Vino Nongkrong di Lapo
 JAKARTA -- Demi film '3 Nafas Likas', Vino G Bastian rela nongkrong di lapo. Ia mengaku mengunjungi lapo guna mengetahui dialek Karo. Di film...