Sabtu, 15 Rajab 1434 / 25 Mei 2013
find us on : 
  Login |  Register

Lathaif Al-Mannan, Dedikasi bagi Para Wali (2)

Jumat, 20 Juli 2012, 20:35 WIB
Komentar : 0
Wordpress.com
Kitab (ilustrasi).
Kitab (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Selain magnum opus-nya yang menumental, Al-Hikam, Ibnu Athaillah juga menulis sejumlah kitab, antara lain At-Tanwir fi Isqath At-Tadbir, Taj Al-Arus, Miftah Al-Falah, dan Al-Qaul Al-Mujarrad Fi Ism Al-Mufrad.

Mencermati gaya penulisan dan kualitas hasil karya Ibnu Atha—termasuk kitab Lathaif—maka akan didapati sebuah kesimpulan bahwa, cara penyajian, bahasa yang digunakan, dan kecermatan penulis menyampaikan materi, laik mendapat apresiasi.

Karya-karya Ibnu Atha mendapat tempat di hati para pegiat tasawuf dan cendekiawan Muslim. Sebut saja, pendiri tarekat sufi As-Syadziliyah, Abu Al-Hasan As-Syadzili.

Ia mangatakan, apabila kitab Ihya Ulumuddin yang ditulis memberikan faedah dari sisi ilmu, kitab Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makki mencurahkan cahaya, maka kitab-kitab Ibnu Athaillah juga demikian.

Selain menyuguhkan ilmu, kitab Lathaif Al-Mannan juga membawa pencerahan. Bahkan, Muhammad Abduh pernah menyebut Al-Hikam nyaris “menyerupai” Alquran.  

Dalam uraiannya di kitab Lathaif ini, Ibnu Athaillah, tidak secara langsung memasuki tujuan dan maksudnya tersebut. Melainkan, yang ia lakukan terlebih dahulu dalam mukadimah kitabnya ialah memaparkan tentang konsep kewalian berikut legalitasnya dalam Islam.

Poin yang ia tekankan pertama kali ialah kenyataan bahwasannya Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia terbaik. Penekanan ini merupakan sebuah isyarat sederhana yang hendak ditampilkan oleh Ibnu Athaillah bahwa konsepsi wali tak lain ialah estafeta dari misi penyebaran risalah yang dibawa oleh Rasulullah.

Lalu pada pembahasan selanjutnya, ia menjelaskan tentang hal ihwal mengenai konsep kewalian (al-wilayat) dalam Islam. Di bagian berikutnya, secara khusus ia memaparkan tujuan penulisannya itu, yaitu dokumentasi tentang Al-Mursi yang meliputi biografi singkat, karomah yang dimiliki, serta pengakuan-pengakuan tokoh yang hidup di masa Al-Mursi.

Hal yang paling utama ialah mendokumentasikan pemikiran-pemikiran Al-Mursi di bidang tasawuf.



Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Chairul Akhmad
968 reads
Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar((HR. Ahmad dan Abu Dawud))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Cukup 90 Hari, Cina Bangun Tower Tertinggi di Dunia
CHANGSA--Rencana perusahaan Cina, Broad untuk membuat gedung tertinggi di dunia dalam waktu tiga bulan saja bukanlah isapan jempol belaka. Rencana itu...