Wednesday, 22 Zulqaidah 1435 / 17 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ensiklopedi Islam: Hisab dan Penentuan Awal Bulan (2-habis)

Friday, 13 July 2012, 23:34 WIB
Komentar : 0
Republika/Edwin Dwi Putranto
Penentuan 1 Syawal dengan metodologi hisab (ilustrasi).
Penentuan 1 Syawal dengan metodologi hisab (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Para ulama juga menaruh perhatian pada teori hisab. Mereka menerapkan hisab dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, bahkan dipergunakan pula untuk merumuskan sistem penanggalan (taqwim).

Di antara ulama yang tertarik untuk menentukan awal atau akhir Ramadhan dengan hisab ialah Ibnu Bana, Ibnu Suraih, Al-Qaffal, Mutraf, Ibnu Qutaibah, Ibnu Muqatil Ar-Razi, Ibnu Daqiq Al-Id, dan As-Subki.

Sedangkan dari generasi ulama masa kini (abad ke-20), yang menggunakan metode ini ialah Muhammad Rasyid Ridha dan Tantawi Jauhari.

Menurut Ibnu Bana, Ibnu Suraih, dan Al-Qaffal, hisab boleh digunakan dalam menentukan awal atau akhir Ramadhan jika pada akhir Sya’ban atau Ramadhan, bulan tidak dapat dilihat dengan mata karena tertutup awan.

Sedangkan As-Subki berpendapat, hisab digunakan hanya untuk menentukan awal Ramadhan ketika bulan tidak kelihatan, tetapi tidak digunakan untuk menentukan akhir Ramadhan.

Adapun Ibnu Daqiq Al-Id mewajibkan puasa dengan hasil hisab. Menurutnya, jika tertutup awan, wajiblah bagi ahli hisab menentukan awal atau akhir puasa Ramadhan dengan hisab. Puasa yang dilakukan atas dasar hisab adalah sah. Pendapat ini disetujui oleh Muhammad Rasyid Ridha dan Tantawi Jauhari.

Para ulama tersebut merujuk pendapat mereka berdasarkan hadis riwayat Muslim. Dalam hadis itu disebutkan perintah untuk berpuasa ketika melihat hilal. Bila hilal tak mungkin terlihat, kira-kirakanlah.

Arti kira-kirakanlah dalam hadis tersebut dimaknai dengan perintah mempergunakan hisab untuk memperhitungkan bulan jika bulan itu tertutup. Karenanya, di antara beberapa nama di atas, ada yang mewajibkan puasa atas dasar hisab.


Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Chairul Akhmad
"Orang munafik adalah orang yang banyak mencela, dan merasa dirinya lebih baik dibandingkan saudaranya"((HR Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Atasi Masalah Grafiti, ini Cara Kreatif Washington DC
WASHINGTON --  Kota besar seperti ibukota Amerika Serikat, Washington DC, juga menghadapi masalah graffiti karena semakin banyaknya dinding gedung dan tempat umum yang...