Senin, 2 Safar 1436 / 24 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Masjid Muhammad Ali Pasha, Masjid di Atas Benteng (3-habis)

Rabu, 04 Juli 2012, 22:52 WIB
Komentar : 0
redbubble.com
Masjid Muhammad Ali Pasha di Kairo, Mesir.
Masjid Muhammad Ali Pasha di Kairo, Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada abad ke-19, bisa dikatakan Mesir mengalami pembaruan besar-besaran. Pembaruan ini telah memperkenalkan Mesir pada kemajuan Barat dan juga sistem ekonominya.

Bidang pendidikan mendapat perhatian utama dengan dikirimnya pelajar Mesir ke kawasan Eropa dan diterjemahkannya literatur modern ke dalam bahasa Arab.

Ekonomi Mesir juga menjadi semakin terkait dengan sistem ekonomi Eropa yang berorientasi ekspor dan pembiayaan pembangunan. Kondisi ini berdampak pada perkembangan kota-kota di wilayah Mesir.

Kota Kairo, misalnya, meski tidak secara menyeluruh, setahap demi setahap mulai berubah menjadi sebuah kota besar dan menjadi ibukota yang mapan.

Demikian juga dengan Alexandria. Bersama dengan Kairo, Alexandria menjelma menjadi kota besar dan fondasi kebangkitan budaya Arab kala itu. Pembaharuan besar-besaran itu dimulai sejak Muhammad Ali Pasha berkuasa di Mesir.

Pendiri Mesir modern dan penguasa pembaru di Mesir ini bukanlah orang Mesir asli. Muhammad Ali Pasha adalah orang Albania kelahiran Yunani yang merupakan tentara kekhalifahan Turki Usmani (Ottoman). Dia dilahirkan pada tahun 1769 dan meninggal pada 2 Agustus 1849.

Muhammad Ali Pasha mengambil alih kekuasaan Mesir yang pada saat itu di bawah pemerintahan Dinasti Mamluk. Tahun 1805, dia diangkat sebagai Gubernur Mesir. Oleh masyarakat Mesir, dia dianggap sebagai 'pendiri Mesir modern'. Dinasti yang ia dirikan kemudian menguasai Mesir dan Sudan sampai Revolusi Mesir 1952.

Semasa memerintah, Muhammad Ali Pasha dikenal sebagai seorang penguasa yang sangat concern terhadap bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Menurut sejumlah catatan sejarah, ia mengirim 311 pelajar Mesir ke Italia, Prancis, Inggris, dan Austria. Para pelajar tersebut dikirim untuk mempelajari ilmu-ilmu kemiliteran, ilmu administrasi, arsitektur, kedokteran, dan obat-obatan.

Tak hanya sebatas itu, ia juga mengundang para ahli militer Barat untuk melatih angkatan bersenjata Mesir dan juga mengirim misi ke luar negeri (Eropa) guna mempelajari ilmu kemiliteran. Pada tahun 1815, untuk pertama kalinya, di Mesir didirikan sekolah militer yang sebagian besar instrukturnya didatangkan dari Eropa.

Kemudian, disusul dengan berdirinya sekolah teknik (tahun 1816), sekolah kedokteran (1827), dan sekolah farmasi (1829) yang semua gurunya didatangkan dari negeri-negeri Barat.

Dalam hal administrasi pemerintahan, Muhammad Ali Pasha meniru pemerintahan Prancis. Dia menunjuk seorang penasihat politik, tetapi putusan terakhir tetap berada di tangannya.



Reporter : Nidia Zuraya
Redaktur : Chairul Akhmad
Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barang siapa yang membenci ayahnya berarti ia kafir.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
NTB Ingin Daulat Pangan
 JAKARTA -- Nusa Tenggara Barat (NTB)  telah menjadi pusat perkembangan ternak di Indonesia. Akan tetapi Gubernur NTB, Dr. K.H. TGH. M Zainul Majdi,...