Selasa, 6 Zulhijjah 1435 / 30 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Hujjatul Islam: Habib Salim Bin Djindan, Guru para Habaib (2)

Jumat, 29 Juni 2012, 23:13 WIB
Komentar : 0
Blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah menimba ilmu dan mendapat sanad serta ijazah dari beberapa ulama, Habib Salim akhirnya memiliki keahlian dan alim dalam berbagai bidang: hadis dan sejarah, termasuk sanad hadis.

Kepakarannya dalam bidang hadis menempatkannya sebagai seorang muhaddis (ahli hadis) dan musnid (menguasai ilmu sanad hadis).

Dalam menguraikan suatu hadis, Habib Salim sangat fasih dan hafal sumber-sumbernya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Inilah yang membuat orang kagum terhadap daya ingatnya yang demikian cemerlang.

Sebagai seorang yang hormat kepada guru-gurunya yang selama bertahun-tahun dia tekuni, dia pun memberikan penghargaan yang tinggi pada mereka.

Habib Salim pernah berkata, ''Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Sungguh dapat aku rasakan bahwa majelis mereka merupakan majelis para sahabat Rasulullah SAW di mana terdapat kekhusyukan, ketenangan, dan kharisma yang terpencar di hati mereka.''

Kendati sudah terkenal sebagai dai muda (17 tahun) sewaktu di Surabaya, namanya makin berkibar saat hijrah ke Jakarta. Dalam masa remaja itu, dia juga berdakwah di kota-kota lain, seperti Pekalongan, Tegal, hingga Bogor, di samping membuka majelis taklim di kediamannya di Bidaracina (kini Jalan Otista), Jakarta Timur.

Tegas
Salah satu keistimewaan Habib Salim adalah sikapnya yang tegas dalam berdakwah. Ia tak mengenal kata takut dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Keberaniannya ini bagaikan lawan tanpa tanding, termasuk para penguasa di zaman pemerintahan Bung Karno.

Ibnu Umar Junior dalam risalah Fenomena Kramat Jati menulis, ''Gara-gara keberaniannya, Kolonel Sabur (salah satu ajudan Bung Karno) sampai berang setengah mati kepada Habib Salim ketika dia melancarkan kritik-kritik terhadap pemerintah di sebuah acara di Palembang tahun 1957 yang dihadiri Presiden Soekarno.”

“Kolonel Sabur menyuruh Habib Salim turun dari mimbar. Di kesempatan itu, beliau berkata kepada para hadirin, 'Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah saya harus terus ceramah atau tidak?' Serempak para hadirin menjawab, 'Teruuus!'.''

Karena keberaniannya itu, ia sering ditangkap pemerintah dan harus menghabisi malam-malamnya di penjara. Saat berceramah di Manado yang penduduknya mayoritas beragama Kristen, ia pernah ditangkap. Tuduhannya, apalagi kalau bukan pelecehan agama. Padahal, Habib Salim berbicara mengenai keadaan yang sebenarnya. Namun, umat Kristiani merasa tersinggung dengan ucapan Habib Salim.



Reporter : Alwi Shahab/Nidia Zuraya
Redaktur : Chairul Akhmad
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah [2]:82)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Ramah Lingkungan, Prioritas Pabrik Semen di Rembang
 REMBANG -- Pembangunan pabrik baru PT. Semen Gresik (Persero) Tbk di daerah Rembang akan mengedepankan teknologi yang ramah lingkungan. Debu hasil produksi nanti pun...