Kamis, 27 Ramadhan 1435 / 24 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Fikih Muslimah: Bolehkah Salurkan Zakat ke Suami? (1)

Senin, 11 Juni 2012, 22:22 WIB
Komentar : 0
Wordpress.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Penerima manfaat zakat (mustahik) telah ditentukan dalam Islam. Jumlah meraka disebutkan Alquran sebanyak delapan kelompok (ashnaf tsamaniyah).

Distribusi zakat, pada prinsipnya, harus mengacu pada kedelapan kelompok itu.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orangorang yang berutang untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah: 60).

Dalam praktiknya, kebutuhan memberikan dana zakat, terutama harta kekayaan, juga berlaku bagi keluarga tertentu.

Adakalanya, sebagian orang mendistribusikan zakat itu pada keluarganya sendiri, lebih spesifik zakat harta kekayaan yang ditunaikan oleh istri, diberikan untuk suami atau sebaliknya, sang suami menyalurkan dana zakat untuk istri. Lantas, bagaimana kajian fikih Islam menyikapi kedua kasus itu?

Menurut Imam Abu Hanifah, istri tidak diperbolehkan membayarkan zakat kekayaannya untuk suami. Dalam pandangan Syafi’i dan salah satu riwayat pendapat dari Imam Ahmad, istri boleh menyerahkan zakat bagi suaminya.

Sedangkan Imam Malik mengatakan, bila bagian zakat yang diberikan istri ke suami itu nantinya dipergunakan untuk menambah biaya menafkahi istri dan anaknya, maka hukum memberikan zakat tersebut bagi suami tidak diperbolehkan.

Sedangkan, jika harta itu peruntukkan tidak untuk menafkahi keluarga melainkan untuk dibelanjakan di sektor lain, maka sah hukumnya istri menyerahkan dana zakatnya untuk suami.

 

Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Chairul Akhmad
Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Buka Puasa Bersama Obama Diwarnai Seruan Boikot
WASHINGTON -- Acara buka puasa tahunan di Gedung Putih diwarnai seruan boikot, sebagai bentuk protes kebijakan pemerintahan Obama terhadap konflik di Gaza. Selengkapnya...