Kamis, 4 Syawwal 1435 / 31 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ensiklopedi Islam: Gelar Hujjatul Islam (2-habis)

Sabtu, 02 Juni 2012, 22:17 WIB
Komentar : 1
Blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Ada tiga hal yang digarisbawahi Al-Ghazali, yaitu anggapan alam itu qadim, pembangkitan di akhirat hanya berupa rohani, dan pendapat mereka bahwa Allah tak mengetahui hal parsial juz’iyyat. Kekuatan sanggahan itu terekam dalam kitabnya yang terkenal; Tahafut Al-Falasifah.

Sedangkan, gelar Hujjatul Islam identik pula dengan Ibnu Taimiyah. Pada 1299 M, ia pernah terlibat polemik teologis dan sufistis dengan orang yang berseberangan pandangan.

Oleh lawannya, Ibnu Taimiyah dituduh sebagai seorang mujassim, percaya bahwa Allah SWT memiliki bentuk fisik layaknya manusia. Sanggahannya itu terdokumentasikan secara apik di kitab yang diberi nama Risalah Al-Hamawiyah.

Berbeda konteks, kata hujjahjuga banyak dipakai sepanjang sejarah. Selain berarti argumen, kata hujjah juga digunakan sebagai nama sebuah kelompok. Di Iran, terdapat sekte yang berjuluk Hujjatiyah. Sebuah mazhab pemikiran religius konservatif dalam Syiah.

Berdiri pada awal 1950-an, seperti dikutip dari Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, pendiri awal Syekh Mahmud Halabi berasal dari kalangan tradisional dan konservatif, demikian pula dengan para pengikutnya.

Kelompok yang mulanya terkenal dengan sebutan Masyarakat Hujatiyah di Masyhad Iran itu, tersohor luas anti-Bahai. Sepanjang eksistensinya di Iran, Hujjatiyah gencar melakukan ‘serangan’ terhadap Bahai.

Aktivitas ini menyebabkan intimidasi atas kaum Bahai di berbagai wilayah, seperti di Syiraz, Isfahan, Yazd, dan Kasyan. Hujjatiyah juga melakukan tekanan ke pemerintah agar mempersulit gerak-gerik mereka yang memiliki keterkaitan dengan Bahai.

Namun, seiring perjalanannya, terutama pasca revolusi Islam, pamor Hujjatiyah menurun. Pada musim panas 1983, muncul kampanye publik menentang Hujjatiyah. Sejak itu, keberadaan Hujjatiyah telah diabaikan.


Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Chairul Akhmad
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS:Al Baqarah 197)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar