Saturday, 6 Syawwal 1435 / 02 August 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ensiklopedi Islam: Gelar Hujjatul Islam (1)

Saturday, 02 June 2012, 20:15 WIB
Komentar : 1
Blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam tradisi keilmuan klasik, penggunaan gelar dan julukan berkembang di kalangan cendekiawan.

Beberapa gelar disematkan ke sejumlah tokoh sebagai bentuk penghormatan atas kapasitas keilmuwan seseorang. Misalnya, Syaikhul Islam, Mujaddid Az-zaman, dan sebutan lainnya.

Di antara julukan yang masyhur dipakai adalah Hujjatul Islam. Istilah tersebut berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas dua kata, hujjah dan Islam. Penggabungan dua kata itu, mengutip Ensiklopedi Islam, diartikan dengan ‘pembela Islam’.

Gelar tersebut diberikan kepada para ulama yang berjasa mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran Islam dengan argumen yang sulit dipatahkan oleh lawan. Sesuai kata yang dipakai, maka ulama yang diberi gelar itu berhasil bertindak sebagai penyanggah serangan-serangan yang ingin merancukan ajaran Islam.

Penyerang yang dimaksud tak hanya datang dari pihak luar Islam, tetapi juga serangan yang muncul di internal Islam. Bila musuh datang dari dalam, biasanya mereka hendak menebarkan syirik, khurafat, dan takhayul atau pemahaman, serta tindakan yang bertentangan dengan kemurnian Islam.

Sepanjang sejarah Islam, terdapat dua nama yang mendapat gelar mulia ini, yaitu Abu Hamid Al-Ghazali dan Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah. Penyematan gelar kepada kedua tokoh itu bukan tanpa alasan kuat. Al-Ghazali dikenal dengan pembelaannya yang mengagumkan terhadap Islam, terutama menyodorkan argumennya yang mematahkan ideologi kelompok Batiniah, salah satu sempalan dari Syiah.

Pemikiran Al-Ghazali itu di abadikan di bukunya yang berjudul Fadhaih Al-Bathiniyyah (Kekeliruan Batiniah). Ia tidak saja mengajukan argumentasi dari teks agama, tetapi juga mengemukakan argumen logika yang konsepsional, sistematis, dan memiliki muatan ilmiah yang berbobot. Bangunan pemikiran kokoh sosok yang wafat pada 555 H/1111 M itu tampak pula saat melakukan sanggahan atas gagasan para filsuf.


Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Chairul Akhmad
Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing tanpa memberinya makanan atau melepaskannya mencari makan dari serangga tanah((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Tren Arus Mudik Saat Arus Balik di Pasar Senen
 JAKARTA -- Pada H+3 Stasiun Pasar Senen tak hanya menerima arus balik. Geliat arus mudik di Stasiun ini masih cukup tinggi. Menurut Kepala Humas...