Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Hujjatul Islam: Syekh Yusuf Al-Makassari, Ulama dan Sufi dari Makassar (2)

Selasa, 27 Maret 2012, 15:49 WIB
Komentar : 0
majalahversi.com
Syekh Yusuf Al-Makassari (ilustrasi).
Syekh Yusuf Al-Makassari (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Begitulah Syekh Yusuf Makassar. Dia berdakwah dengan cara memberi contoh dan hikmah.

Sehingga pendengarnya senang mengikuti dakwah yang disampaikannya. Karena itulah, tak heran bila namanya begitu sangat terkenal, termasuk di Cape Town, Afrika Selatan.

Nama Syekh Yusuf Makassar, tentunya sudah tidak asing lagi. Banyak artikel atau tulisan dan buku-buku yang ditulis para pemerhati perjuangan Syekh Yusuf.

Ia adalah seorang ulama besar kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626. Muhammad Yusuf atau lebih populer dengan sebutan Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone.

Konon, nama Muhammad Yusuf merupakan pemberian dari Sultan Alauddin, Raja Gowa yang merupakan kerabat ayahnya, Gallarang Moncongloe dan ibunya Siti Aminah.

Namun, menurut Hamka, nama ayah Syekh Yusuf adalah Abdullah Abul Mahasim. Keluarganya yang memiliki latar belakang keislaman yang kuat membuat Syekh Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam.

Syekh Yusuf Makassar, selain sebagai seorang ulama juga dikenal sebagai pejuang nasional dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1995. Ia juga seorang sastrawan sekaligus sebagai ahli tasawuf (sufi).

Pergulatannya dengan ilmu agama, perjuangannya melawan penjajah hingga diasingkan ke Cafe Town, Afrika Selatan, sudah begitu banyak dijelaskan oleh para tokoh dalam berbagai buku dan artikel. Pada tulisan ini, akan dikemukakan perjalanan dan pemikirannya dalam bidang tasawuf.

Persentuhan pertama kali dengan ilmu tasawuf didapatkannya dari Syekh Nuruddin Ar-Raniri di Aceh, yaitu dengan belajar Tarekat Qadiriyah hingga ia mendapatkan ijazah (sebuah pernyataan bahwa dia diperbolehkan mengajarkannya kepada orang lain) dari Ar-Raniri.

Selepas dari Aceh, Syekh Yusuf melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi melalui Yaman. Di Yaman ini ia belajar pada Sayid Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh Al-Kabir Mazjaji Al-Yamani Zaidi An-Naqsyabandi. Dari ulama ini, Syekh Yusuf mendapatkan ijazah Tarekat Naqsyabandiyah.


Reporter : Nidia Zuraya
Redaktur : Chairul Akhmad
Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya( (HR. Al-Baihaqi) )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Konsep SPBU ini Jadi Tren di AS
WASHINGTON -- Bayangkan, mengisi bensin sekaligus menikmati hidangan lezat yang dimasak langsung? Konsep yang sedang tren di Amerika ini memungkinkan warga memaksimalkan waktu...