Sungai Seihan: Menelusuri Jejak Sungai Surga (Bag 4-habis)

Kamis, 09 Pebruari 2012, 21:00 WIB
livius.org
Sungai Seihan: Menelusuri Jejak Sungai Surga (Bag 4-habis)
Sungai Seihan

REPUBLIKA.CO.ID, Kota Adana yang terletak di tepi Sungai Seihan mencapai masa keemasan pada akhir abad ke-15 M dan 16 M. Saat itu, kota tersebut diperintah oleh  keluarga Ramazanoglu yang datang ke Adana di masa kekuasaan Dinasti Mamluk. Orang-orang dari Turki berdatangan dan menetap di kota yang subur itu.

Keluarga Ramazanoglu  menjadikan Adana sebagai pusat pemerintahan. Pada zaman itu, pembangunan begitu gencar dilakukan di kota Adana. Berbagai bangunan bersejarah dibangun secara besar-besaran. Gaya arsitektur Mamluk dan Seljuk mendominasi bangunan-bangunan yang didirikan di kota Adana.

Bangunan bersejarah yang diwariskan peradaban pra-Islam hanya tinggal Taakopru, peninggalan Romawi-Bizantium serta  sedikit bangunan umum yang dibangun pada era kekuasaan Kesultanan Ottoman.

Di kota itu juga terdapat sebuah jembatan bersejarah yang dibangun dari abad ke-4 M, ketika Romawi menguasai wilayah itu. Jembatan itu membelah Sungai Seihan.  Di kota tepi sungai yang disebutkan dalam hadis Nabi SAW itu juga terdapat sebuah Jam Menara yang besar bernama Buyuk  yang dibangun pada 1882. Menara jam raksasa itu tingginya mencapai 32 meter. Sayangnya, jam itu sempat dirusak pada era penjajahan Prancis dan dibangun kembali pada 1935.

Pada era kekuasaan Ramazanoglu, di kota itu dibangun Ramazanoglu Hall pada 1495, ketika Halil Bey memegang tampuk pemerintahan. Di kota itu juga terdapat tempat pemandian bernama Carsı Hamam yang dibangun pada 1529 oleh Ramazanoglu Piri Pasa . Inilah tempat pemandian terbesar di Adana. Sumber air pemandian itu berasal dari Sungai Seihan.

Selain itu di kota Adana juga terdapat Irmak Hamam, tempat pemandian di sungai. Lokasinya berada  di dekat Sungai Seihan. Pemandian itu dibangun pada 1494 oleh Ramazanoglu Halil Bey. Dibangun di atas rerentuhan pemandian Romawi. Di kota itu juga terdapat sederet masjid bersejarah

Redaktur: Heri Ruslan
Wabarah berkata, "Aku bertanya kepada Ibnu Umar, 'Kapankah saya melempar jumrah?' Ia berkata, 'Jika imammu melempar, maka melemparlah.' Saya mengulangi pertanyaan itu, lalu ia berkata, 'Kami menunggu masa (waktu). Apabila matahari tergelincir, maka kami melempar'."(HR Bukhari)
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...