Adab dan Etika: Menahan Kuap (2-habis)

Wednesday, 08 February 2012, 17:00 WIB
Blogspot.com
Adab dan Etika: Menahan Kuap (2-habis)
Menguap (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada dalam bukunya Ensiklopedi Adab Islam (Ma’usu’ah Al-Adab Al-Islamiyyah), menyebutkan ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dan harus dilakukan saat orang menghadapi kondisi menguap.

Pertama, hendaknya yang bersangkutan menolak, mengalahkan, dan menahan kuapan, khususnya ketika sedang shalat.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri RA, Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menguap dalam shalatnya, hendaklah ia berusaha menahan kuapnya sebisa mungkin karena setan bisa masuk.” (HR Muslim).

Syekh Nada menambahkan bagaimana setan bisa masuk? Tak perlu heran. Setan adalah makhluk yang tercipta dari api, bisa berubah bentuk, berpindah, dan bergerak seperti hawa dan angin.

Kedua, bagi mereka yang menguap agar meletakkan tangan di mulut dan menutupnya. Tujunnya ialah agar menguap, mulut tidak dalam kondisi terbuka. Pada saat itu, manusia terlihat buruk dan kala itu pula setan sedang menertawakannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang kalian menguap, maka tutuplah mulutnya dengan tangannya.” (HR Turmudzi).

Atas dasar hadis ini, sebagian ulama mengutarakan hikmah di balik anjuran agar tangan memuntup mulut saat menguap, yaitu menghindari setan masuk dan mencegahnya merendahkan serta menertawakan penguap.

Ketiga, hendaknya tidak mengeluarkan suara sewaktu menguap. Mengangkat suara saat kuapan termasuk adab yang buruk. Sayangnya, oleh sebagian orang, perilaku itu dianggap perkara sepele. Terkadang, malah dengan sengaja mengangkat suaranya untung mengundang gelak tawa orang di sekelilingnya. Padahal, perbuatan semacam itu, dekat sekali dengan tindakan setan.

Dalilnya masih merujuk riwayat Turmudzi di atas. Disebutkan bahwa, bila seseorang menguap lalu mengeluarkan suara “aahh”, maka setan tertawa di dalam perutnya. “Sesungguhnya, Allah menyukai bersin dan membenci menguap,” demikian titah Rasulullah pada riwayat tersebut. 

Nabi Menguap?

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam kitab syarah hadits Bukhari, Al-Fath Al-Bari, para nabi tidak pernah menguap, termasuk Rasulullah. Fakta ini merujuk pada riwayat yang dinukil oleh Ibnu Abi Syaibah dan Bukhari dalam kitab Tarikh Al-Kabir.

Riwayat itu menegaskan bahwa Rasulullah tidak sekalipun pernah menguap. Riwayat lainnya yang datang dari Al-Khuttabi menyatakan kuap juga bukan merupakan perbuatan yang lekat di sepanjang sejarah nabi atau rasul yang diutus untuk umat manusia.

Kuap adalah perbuatan rendah yang tidak disukai Allah. Menguap bisa mengundang rasa senang setan. Kuap juga dikategorikan sebagai salah satu kegiatan yang bersumber dari makhluk terlaknat itu. Sementara, para nabi terjaga dari segala tindakan yang dapat mengurangi derajat kenabian mereka. “Tak satu pun nabi pernah menguap,” demikian tulis Musallamah bin Abdul Malik bin Marwan. 


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nashih Nashrullah
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku pernah memberi wewangian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallul-nya sebelum melakukan thawaf di Ka'bah. Muttafaq Alaihi.(HR Muslim)
erickazof, Thursday, 9 February 2012, 14:05

Alhamdulillah, terima kasih sudah berbagi ilmu serta mengingatkan.. :)

Balas
endang, Wednesday, 8 February 2012, 17:56

Mudah2n bsa melaksnkn'a
​​آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْننَ

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...