
REPUBLIKA.CO.ID, Menguap, bisa menimpa siapa pun, terutama saat kondisi letih dan keadaan perut kenyang setelah menyantap makanan. Adakalanya kuap yang merupakan gerekan refleks itu, menimbulkan efek mengenakkan bagi sebagian orang. Dan, tentunya sangat memanjakkan tubuh.
Apa faktor penyebab kuap? Hingga saat ini belum diketahui pasti. Tetapi, acapkali kuap kerap dikaitkan dengan jumlah oksigen di paru-paru yang rendah. Kuap bisa memancing kuap lainnya muncul. Potensi “penularan” itu bisa mencapai 55 persen bagi mereka yang melihat penguap, dalam waktu lima menit.
Islam mengatur bagaimana seseorang menyikapi kuap. Keluhuran nilai Islam itu akan terkuak, saat menengok respon dan penyikapan masyarakat sebuah komunitas terhadap kuap.
Dalam beberapa budaya, menguap merupakan suatu sikap antisosial. Islam meletakkan beberapa panduan penting agar umat bisa menghadapi kuap. Dalam Islam, kuap dianggap sebagai salah satu media bermalas-malasan yang identik dengan setan. Karenanya, harus tidak boleh diabaikan begitu saja.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, "Bersin itu dari Allah dan menguap itu dari setan. Jika salah seorang kalian menguap, maka tutuplah mulutnya dengan tangannya dan jika ia katakan “aaahh”, maka setan tertawa dalam perutnya. Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap.” (HR. Tirmidzi).
Ibnu Bathal mengatakan aktivitas menguap disandarkan kepada setan bukan berarti, makhluk Allah terlaknat tersebut juga melakukan kegiatan yang sama, kuap. Yang dimaksud penyandaran ini lebih berarti setan senang melihat mereka yang menguap lantaran eksprisi lucu—menurut setan—yang muncul dari muka penguap. Melalui kuap pula, setan disinyalir bisa masuk dan melalaikan penguap dari berbuat kebaikan.
Abu Bakar Ibnu Arabi menambahkan, segala aktivitas yang tidak mengenakkan dan dicela diidentikkan dengan setan. Lain halnya perbuatan yang baik, selalu disandarkan pada Allah. Menguap, menurutnya, timbul dari rasa letih dan kenyang yang memicu rasa malas, kesemuanya adalah dorongan setan.
Imam Nawawi mengatakan dasar penisbatan kuap kepada setan yaitu setan mengajak kepada syahwat. Kuap, terjadi akibat fisik letih dan perut mulai kenyang. Oleh karena itu, peringatan yang terdapat di berbagai hadis tersebut juga bermakna agar menghindari penyebab kuap, yang tak lain ialah makan terlalu kenyang dan berlebihan.
Dalam beberapa riwayat Bukhari-Muslim, diutarakan kuap yang dimaksud hanya berlaku saat menunaikan shalat, sedang di riwayat lainnya tuntunan kuap bersifat mutlak, tanpa dibatasi ketika shalat.
Menyikapi ragam riwayat itu, masih menurut Ibnu Arabi, anjuran menahan kuap berlaku untuk setiap kondisi, alias mutlak. baik shalat ataupun kala tak sedang mendirikannya. Penekanan tuntutan lebih dipertegas khusus shalat karena kuap yang datang ketika itu bisa merusak kekhusyukan.