Jumat , 03 Februari 2012, 14:54 WIB

Hujjatul Islam: Ibnu Taimiyah, Sang Mujaddid Teguh Pendirian (1)

Red: Chairul Akhmad
Wikipedia
Ibnu Taimiyah (ilustrasi).
Ibnu Taimiyah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Abul Abbas Taqiuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah Al- Harrani atau yang biasa disebut dengan nama Ibnu Taimiyah, adalah seorang ulama besar Islam dari Harran, Turki. Ia lahir pada 10 Rabiul Awwal 661 H (22 Januari 1263 M).

Disamping dikenal sebagai Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah juga dikenal sebagai sosok ulama yang keras dan teguh dalam pendirian, sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam. Dia dikenal pula sebagai seorang mujaddid (pembaharu) dalam pemikiran Islam.
 
Ia berasal dari keluarga religius. Ayahnya Syihabuddin bin Taimiyah adalah seorang ulama, hakim, dan khatib. Kakeknya, Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani adalah seorang ulama yang menguasai fiqih, hadits, tafsir, ilmu ushul dan hafidz (penghapal Alquran).

Ibnu Taimiyah lahir di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketika berusia enam tahun (tahun 1268), ia dibawa ayahnya ke Damaskus, Suriah, disebabkan serbuan tentara Mongol atas Irak.

Semenjak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Begitu tiba di Damaskus, ia segera menghapalkan Alquran dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, hafizh dan ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadits, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubus Sittah dan Mu’jam At-Thabrani Al-Kabir.

Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari Aleppo, Suriah, yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghapalkannya secara cepat dan tepat.

Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, ia pun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghapalnya. Sehingga ulama tersebut berkata, "Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar. Sebab, belum pernah ada seorang bocah sepertinya."

Sejak kecil, Ibnu Taimiyah hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan menggali ilmu, terutama tentang Alquran dan Sunah Nabi.


Sumber : Berbagai sumber