Kamis, 17 Jumadil Akhir 1435 / 17 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Hindun Binti Utbah: Kisah Tobatnya Wanita Pemakan Hati (2-habis)

Minggu, 29 Januari 2012, 05:00 WIB
Komentar : 1
indonesia.cri
Gurun Pasir
Gurun Pasir

REPUBLIKA.CO.ID, Mendengar pernyataan Hindun, Umar pun tertawa terbahak-bahak, sedangkan Rasulullah hanya tersenyum. Rasulullah kembali berkata, ''Dan tidak boleh membuat tuduhan palsu.''  Hindun menimpali, ''Demi Allah, tuduhan palsu adalah perbuatan yang sangat jelek. Engkau menyuruh kami untuk melakukan perbuatan baik dan akhlak yang mulia.''

Nabi SAW melanjutkan, ''Dan tidak boleh mendurhakaiku dalam perkara yang baik.''  Hindun berkata, ''Demi Allah, saat kami datang di tempat ini, kami sama sekali tidak menyimpan niat untuk mendurhakaimu.''

Setelah resmi menjadi seorang Muslimah, Hindun langsung memupus noda-noda hitam yang pernah diperbuatnya. Ia berubah menjadi seorang sahabat wanita yang sangat istimewa.  Ia menjadi seorang wanita ahli ibadah, rajin shalat malam dan berpuasa. Ia sangat konsisten dengan status barunya tersebut sampai tiba saat yang membawa kegelapan bagi seluruh bumi ini, yaitu saat Rasulullah SAW wafat.

Hindun sangat terpukul mendengar wafatnya Rasulullah SAW. Padahal, ia  tak terlalu lama memeluk Islam. Meski berat ditinggalkan Sang Pemimpin Umat,  Hindun tetap mempertahankan keislamannya dengan baik. Ia tetap menjadi seorang ahli ibadah dan menjaga janji setia yang pernah diucapkannya di hadapan Rasulullah.

Komitmen dan loyalitasnya terhadap Islam, ia tunjukkan dalam  Perang Yarmuk. Ibnu Jarir mengisahkan, ”Pada hari itu, kaum Muslimin bertempur habis-habisan. Mereka berhasil menewaskan pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat besar. Sementara itu, kaum wanita menghalau setiap tentara Muslim yang terdesak dan mundur dari medan laga.

Mereka berteriak, ’Kalian mau pergi ke mana? Apakah kalian akan membiarkan kami ditawan oleh pasukan Romawi?’ Siapa pun yang mendapat kecaman yang pedas seperti itu, pasti kembali menuju kancah pertempuran.”

Tentara Muslim yang sebelumnya hampir melarikan diri, kemudian bertempur kembali membangkitkan semangat pasukan yang lain. Mereka benar-benar terbakar oleh kecaman pedas yang diteriakkan oleh kaum wanita, terutama Hindun binti ’Utbah.

Dalam suasana seperti itu, Hindun menuju barisan tentara sambil membawa tongkat pemukul tabuh dengan diiringi oleh wanita-wanita Muhajirin. Hindun membaca bait-bait puisi yang pernah dibacanya dalam perang Uhud. Begitulah, wanita mulia itu membela dan mempertahankan agama yang diyakininya.

Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Diponegoro dan Ageng Selo Selasa, 31 Januari 2012, 15:05
Oh maaf saya salah tulis, saya yang telah termakan cerita palsu kaum syi'ah yang membenci ummayah. Dan pohon terkutuk itu mestinya milik orang yang suka mengutuk Sahabat Nabi dan Keluarga Nabi yang mulia. Pohon terkutuk itu ada dalam hati yang dipenuhi dengki yang diajarkan Yahudi kepada mereka.
  diponegoro Selasa, 31 Januari 2012, 11:55
Konspirasi Bani Umayah ternyata lumayan sukses ya... Selamat mengkonsumsi cerita2 palsu...
  ageng selo Senin, 30 Januari 2012, 16:09
Dongeng ini hanya untuk membersihkan nama anggota para pemilik pohon terkutuk.