Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Friday, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Menag: Kita Perlu Belajar dari Ahli Ilmu Hadis Masa Lalu

Senin 16 April 2018 13:58 WIB

Red: Agus Yulianto

Menag memukul gong tanda dibukanya International Conference on Islamic Studies 2018 di Kampus Univ. Muhamadiyah Jakarta, Tansel.

Menag memukul gong tanda dibukanya International Conference on Islamic Studies 2018 di Kampus Univ. Muhamadiyah Jakarta, Tansel.

Foto: kemenag.go.id
Dunia nyata saat ini banyak dikendalikan dan dipengaruhi diskursus yang berkembang.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN -- Masyarakat Indonesia perlu belajar dari tradisi akademik para ahli ilmu hadis masa lalu dalam ketelitiannya menyaring (takhrij) hadis-hadis pilihan. Metode takhrij hadis perlu direvitalisasi kembali agar makin relevan dan dipraktikkan oleh generasi milenial saat ini dalam menyikapi maraknya informasi di media sosial.

“Tradisi hadis mengajarkan kepada kita bahwa setiap teks harus dibaca dalam konteksnya, membaca teks, dan menempatkannya dalam konteks lain sering mengakibatkan hilangnya pesan utama, dan lebih jauh bahkan menyesatkan. Berita, foto, pernyataan seseorang di sosmed adalah teks yang harus diverifikasi konteksnya agar dipahami dengan baik,” ujar Menag Lukman Hakim Saifuddin saat membuka International Conference on Islamic Studies (ICONICS) Tahun 2018 dengan tema "Islamic Civilization in The Digital Age" di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Senin (16/4).

Lukman berharap, ulama dan akademisi ilmu-ilmu keislaman harus lebih proaktif berdakwah di dunia maya karena dunia nyata saat ini banyak "dikendalikan" dan dipengaruhi oleh diskursus dan wacana yang berkembang di dunia maya.  “Dengan memperhatikan jejak-jejak sejarah yang ada, saya sendiri yakin dengan sepenuhnya bahwa peradaban Islam Indonesia akan selalu mampu berdialog dengan keragaman dan perubahan zamannya dengan baik, moderat, tanpa menimbulkan kerusakan terhadap peradaban Islam itu sendiri,” ujarnya.

“Itulah mengapa kita merasa patut mengklaim sebagai pengembang peradaban Islam wasatiyah, Islam yang memberikan berkah bagi sesama umat manusia (Islam rahmatan lil 'alamin),” katanya.

Lukman mengatakan, masyarakat berharap bahwa melalui konferensi ini, Muslim Indonesia dapat memberikan inspirasi kepada peradaban dunia tentang bagaimana strategi mengelola keragaman, merawat harmoni dan  perdamaian, menyinergikan peradaban klasik dan modern, serta mengomunikasikannya kepada generasi milenial, khususnya melalui jalur pendidikan tinggi Islam.

“Saya (Menteri Agama) berharap bahwa event ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada terbentuknya peradaban dunia yang lebih damai. Adalah tugas kita semua untuk mempromosikan peradaban Islam kita yang damai tersebut kepada masyarakat dunia internasional,” ujar Lukman.

Kegiatan seminar internasional bertajuk International Conference on Islamic Studies (ICONICS) 2018, dengan tema: “Islamic Civilization in the Digital Age” diselenggarakan selam dua hari tanggal 16-17 April 2018 di kampus UMJ, Jalan KH Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat.

Ada (empat subtema yang akan didiskusikan dalam ICONICS 2018, yaitu "Future Development of Islamic Civilization in the Digital Age", "Paradigm Shift on Islamic Education in the Digital Age", "Strategy of Da’wah in the Digital Age", dan "Challenge of Sharia in the Digital Age".

Sejumlah narasumber hadir, di antaranya, Dr A Abdul Malik Lc MA (Universitas Sains Islam Malaysia), Prof Dr Abdul Illah (University of Khartoum, Sudan), pembicara dari Indonesia; seperti Prof Dr Azyumardi Azra, Prof D Zainal Hasibuan, Prof Dr Syaiful Bakhri, Prof Dr Nasaruddin Umar, Prof Dr Andi Faisal Bakti, Prof Dr Fathurrahman Djamil, Prof Dr Din Syamsuddin, dan Dr TGB H M Zainul Majdi.

Sumber : kemenag.go.id
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES