Ahad , 03 December 2017, 16:04 WIB

Kiai Didin: Energi Positif 212 Harus Diarahkan ke Dua Hal

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agus Yulianto
Republika/Ali Mansur
Suasana peserta aksi Reuni 212 usai menunaikan shalat Subuh di Lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (2/12).
Suasana peserta aksi Reuni 212 usai menunaikan shalat Subuh di Lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (2/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peserta Reuni Akbar 212 yang jumlahnya sangat banyak baru saja mewarnai halaman Monumen Nasional (Monas) di Jakarta pada Sabtu (2/12). Menurut pandangan Cendikiawan Muslim, Prof KH Didin Hafidhuddin MSc, energi dan potensi yang luar biasa tersebut harus diarahkan kepada dua hal.

"Saya menyebutnya ini energi positif yang luar biasa, energi persatuan dan kesatuan yang luar biasa, yang merupakan anugerah dari Allah," kata Kiai Didin kepada Republika.co.id, Ahad (3/12)

Didin mengatakan, energi positif ini mesti diarahkan kepada dua hal. Pertama, diarahkan supaya kaum Muslimin terbiasa melaksanakan sholat berjamaah di masjid-masjid. Sebab, dengan melaksanakan shalat berjamaah, soliditas akan semakin kuat.

Yang kedua, energi positif ini mesti diarahkan ke penguatan muamalah terutama ekonomi. Jadi, ekonomi umat Islam harus kuat. Misalnya menguatkan warung dan toko-toko milik Muslim dengan berbelanja ke warung dan toko mereka.

"Kemudian lembaga-lembaga keuangan syariah supaya kaum Muslimin hanya bertransaksi dengan bank-bank syariah, itu diarahkannya ke sana," ujar Didin

Dia menegaskan, jadi energi positif ini meski dialirkan untuk ibadah dan kegiatan muamalah. Sekarang sudah diarahkan ke sana, sebagai contohnya ada gerakan Subuh berjamaah, 212 Mart dan koperasi syariah. Umat Islam tinggal menguatkan yang ada.

Didin menambahkan, saat ini masyarakat juga perlu keteladanan. Para ulama, tokoh, pimpinan dan pejabat Muslim sangat penting menjadi teladan. Mestinya mereka sholat berjamaah di masjid, transaksi dengan bank syariah dan lain sebagainya. "Jadi hidup beragama bukan sekedar untuk masyarakat, tapi juga untuk kita termasuk para pejabat dan tokoh," ujarnya.