Ahad , 26 November 2017, 09:50 WIB

Pengeboman Masjid Sinai tak Lepas dari Politik di Palestina

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
EPA-EFE/AHMED HASSAN
Pemandangan bagian luar Masjid Al-Rawda sehari setelah rumah ibadah tersebut diserang di bagian utara Kota Arish, Semenanjung Sinai, Mesir, Sabtu (25/11). Menurut laporan, setidaknya 270 orang tewas dan 90 terluka karena ledakan bom.
Pemandangan bagian luar Masjid Al-Rawda sehari setelah rumah ibadah tersebut diserang di bagian utara Kota Arish, Semenanjung Sinai, Mesir, Sabtu (25/11). Menurut laporan, setidaknya 270 orang tewas dan 90 terluka karena ledakan bom.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi mengatakan, serangan brutal kelompok militan yang mengebom sebuah masjid di Rawda, Sinai Utara, Mesir pada Jumat (24/11) kemarin, masih ada kaitannya dengan perkembangan politik di Palestina.

"MUI setelah menyampaikan kutukan terhadap pengeboman Masjid di Sinai menilai bahwa aksi biadab itu tak lepas dari perkembangan politik di Palestina, khususnya terkait rekonsiliasi kelompok Fatah dan Hamas," ujar Muhyiddin kepada Republika.co.id, Ahad (26/11).

Dia menjelaskan, bahwa Israel adalah pihak yang menolak rekonsiliasi tersebut karena dapat meningkatkan soliditas perjuangan bangsa Palestina. Sementara, perubahan sikap Mesir terhadap Hamas secara politik telah mengucilkan Israel. "Perubahan sikap Mesir terhadap Hamas yang sangat negatif secara politik mengucilkan Israel," ucapnya.

Di samping itu, Israel yang sejak dulu terus menyuarakan Anti-Hizbullah dan Iran, kini juga telah berhasil menekan Arab Saudi dan menyokong sikap Pangeran Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS) yang akan menghancurkan Hizbullah di Lebanon.

Menurut dia, Isreal telah mengistruksikan seluruh kedubesnya agar mendukung upaya Arab Saudi memerangi Hizbullah dan Iran. Kata dia, pengusiran Hizbullah dari Lebanon merupakan strategi untuk memotong jalur suplai persenjataan ke Syria. "Dana segar ratusan miliar US dolar hasil pemeresan terhadap para konglomerat Saudi adalah modal awal untuk pembeliaan senjata dan biaya perang urat syaraf di mana sasaran utama adalah mengendalikan Lebanon," katanya.

Ia mengatakan bahwa kerja sama Saudi, Israel dan Amerika Serikat alam menekan Iran dan Hizbullah dengan berbagai alasan justru merugikan umat Islam di kawasan dan dunia.

"Indonesia yang tak akan mengakui kedaulatan Israel sebelum kemerdekaan Palestina, pasti berhadapan langsung dengan Saudia jika Riyadh menjalin hubungan diplomasi dengan Tel Aviv (Kota Pusat Pemerintahan Israel," ucapnya.



Berita Terkait