Rabu , 27 September 2017, 09:30 WIB

Kiai Cholil Ungkap Cara Penyampaian Aspirasi dan Doa

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
ROL/Fakhtar Khairon Lubis
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akhir-akhir ini, banyak sekali cara menyampaikan aspirasi, seperti dengan cara menulis opini, surat terbuka, audiensi, dan melalui aksi di jalanan. Bahkan, ada masyarakat yang melakukannya dengan cara berdoa di parlemen dan melalui ibadah bersama.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis menjelaskan, bahwa sebenarnya menyampaikan aspirasi adalah hak dan keharusan untuk menemukan format yang terbaik dalam kontek berbangsa dan bernegara. Penyampaian aspirasi yang terbuka itu, kata dia, adalh bagian dari jalan dan mekanisme demokrasi yang sah.

"Namun, aspirasi itu ya aspirasi. Katakanlah dan salurkanlah sebagaimana mestinya sebagai aspirasi. Jangan sampai aspirasi yang mulia itu menimbulkan hal yang kontraproduktif, seperti ketertiban dan kelancaran usaha orang lain," ujarnya kepada Republika.co.id, Rabu (26/9).

Menurut dia, penyampaian aspirasi seperti itulah yang menginginkan kondisi bangsa ini menjadi lebih baik dan lebih tertata. Bahkan, penyampaian aspirasi melalui ibadah pun merupakan sesutu yang baik dilakukan. "Aspirasi melalui ibadah pun sesuatu yang sah. Memanjatkan doa adalah bagian dari aspirasi diri kepada Allah SWT untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan kebaikan," ucapnya.

Kiai Cholil mengatakan, berdoa untuk kebaikan dan kemaslahatan umum merupakan tangung jawab umat sebagai manusia dan sebagai seorang Muslim. Menurut dia, umat seharusnya banyak beribadah untuk kebaikan diri dan yang lain.

Namun, lanjutnya, ibadah yang mulia itu jangan sampai dikotori dengan muatan yang lain karena hal itu akan menghilangkan kesakralan dan pahala ibadah. Ibadah karena pamer kepada orang lain (riya) tak akan mendapat pahala dari Allah SWT. "Demikian juga ibadah untuk kepentingan sendiri dengan memobilisasi massa apalagi hanya untuk kepentingan politik sesaat akan menghilangkan makna dan pahala ibadah," katanya.

"Pisahkanlah antara ibadah dan doa karena Allah SWT dari niat untuk kepentingan yang sifatnya duniawi, lakukanlah masalah dunia dengan cara dan mekanisme yang sesuai dengan aturan yang telah disepakati seraya berdoa mudah-mudahan Allah SWT memberi yang terbaik bagi bangsa dan negara," tuturnya.