Senin , 11 September 2017, 15:00 WIB

Bertamasya ke Surga

Red: Agung Sasongko
blogspot.com
Surga (ilustrasi)
Surga (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Al-Jannah, begitu orang Arab menyebut surga. Jannah digambarkan dalam ungkapan Arab, al-hadiqah zatusy-syajar (taman yang mempunyai berbagai macam pepohonan). Tergambarlah di pikiran orang Arab yang tinggal di negeri padang pasir tandus dan gersang itu sebuah tempat yang sangat subur dan penuh keindahan pepohonan.

Pada hakikatnya, keindahan surga jauh melebihi ekspektasi manusia. Dalam hadis Abu Hurairah RA disebutkan ciri surga, "Sesuatu yang belum pernah nampak oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di dalam hati." (HR Bukhari).

Intinya, surga dengan segala keindahannya melampaui keinginan tertinggi manusia yang sanggup dijangkau dan dikhayalkan oleh akalnya. Firman Allah SWT, "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS as-Sajadah [32]:17).

Namun, untuk memudahkan umat manusia memahami surga, tetap saja harus dibantu dengan beberapa pengibaratan seperti yang terlihat di dunia. Misalnya, Allah SWT mencontohkan gambaran surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS Ali Imran [3]: 133). Allah SWT sering menyebutkan visualisasi surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai yang berjenis susu, madu, dan khamr yang lezat (QS Muhammad [47]: 15).

Soal perhiasan di surga, Allah juga menyebutnya, seperti perhiasan emas, perak, mutiara, dan pakaian dari kain sutra (QS Fathir [35]: 33). Piring-piring serta bejana juga terbuat dari emas, pelayan-pelayan yang muda bagai mutiara yang bertaburan dengan pakaian sutra (QS al-Insan [76]:19-21). Semua pengibaratan material surga tersebut hakikatnya jauh lebih baik dari apa yang mereka lihat di dunia. Hanya sekadar pengiyasan semata agar bangsa Arab ketika itu bisa mudah memahami surga.

Allah SWT menjanjikan seluruh kenikmatan surga yang diberikan Allah SWT bersifat kekal, tidak pernah habis, dan banyaknya tak terhitung. Di dalam surga tidak ada lagi permusuhan, tidak ada perasaan dengki antarsesama penduduk surga. Mereka hidup rukun dan damai. Hidup mereka senantiasa bersemangat, tidak pernah merasa lelah dan capai (QS al-Hijr [15]:45-48). Penduduknya jauh dari perkataan negatif dan dosa. Semuanya berucap dan bertingkah laku baik dan damai (QS al-Waqi'ah [56]: 25-26). Di dalam surga tidak ada usia tua dan muda. Umur para penghuninya sebaya dan tidak pernah bertambah tua (QS al-Insan [76]:19-21). Semua penduduk surga selalu dalam keadaan sehat dan tidak pernah dihinggapi penyakit.

Surga diciptakan Allah SWT bertingkat-tingkat. Level-level tersebut sesuai dengan amal ibadah penghuninya semasa di dunia. Surga tertinggi dalam riwayat disebut dengan surga Firdaus yang ditempati para Nabi, orang shiddiq (benar), pejuang yang mati syahid, dan orang saleh. Selain surga Firdaus, Alquran menyebutkan beberapa nama surga yang lain, seperti Jannah al-ma'wa (surga yang kekal), Darul khulud (negeri yang kekal), Darus salam (negeri yang sejahtera), Darun niqmah (negeri ketenangan), Jannatun naim (surga yang penuh kenikmatan).

Kendati surga dihiasi segala bentuk keindahan, masih ada kenikmatan tertinggi dari seluruh kenikmatan tersebut. Alquran menyebutkan nikmat paling tinggi yang akan dirasakan penghuni surga adalah menyaksikan wajah Allah SWT. Firman Allah SWT, "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya (QS al-Qiyamah [75]: 22-23).

Dalam beberapa riwayat diterangkan, pada dasarnya memang tidak seluruh penduduk surga yang mendapatkan kesempatan memperoleh nikmat tertinggi tersebut. Kenikmatan tertinggi itu bersifat eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi segolongan orang. Penduduk surga yang beruntung tersebut melihat wajah Allah SWT secara berkala. Mereka meninggalkan nikmat-nikmat surga yang lain untuk datang bertemu Allah SWT secara langsung.

Pada dasarnya, penduduk surga adalah orang-orang yang bertakwa. Namun, bukan berarti orang Islam yang tidak sampai ke derajat takwa tak ada harapan memasukinya. Ada mizan (pengadilan) yang harus dilalui mereka yang tidak mendapatkan akses masuk surga tanpa hisab. Mereka diadili dan ditimbang amalannya. Jika berat amal kebaikannya, ia masuk surga, dan sebaliknya, jika berat keburukannya, ia masuk neraka.

Penghuni neraka pun punya kesempatan masuk surga. Jumhur ulama berpendapat, orang mukmin (beriman) tidak ada yang kekal dalam neraka. Seberat apa pun siksa neraka yang dideritanya, pada akhirnya ia akan dikeluarkan dan dimasukkan ke surga. Para ulama berdalil dari Abu Sa'ad Al-Khudri, bahwasanya suatu saat akan datang seruan Allah SWT kepada penghuni neraka.

Firman Allah SWT kepada mereka, "Keluarkanlah dari neraka orang yang ada di dalam hatinya iman sekalipun sebesar biji sawi." Lalu, penghuni neraka tersebut dikeluarkan dalam kondisi tubuh yang hitam hangus. Mereka dimasukkan ke dalam nahr al-hayah (sungai kehidupan). Mereka lalu tumbuh seperti tumbuhnya benih di samping tanah yang terkena banjir. (HR Bukhari Muslim).