Senin , 11 September 2017, 13:00 WIB

Menekan Hawa Nafsu

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
Antara
Hawa nafsu
Hawa nafsu

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Untuk menjadi manusia yang mulia, kita dituntut mengembangkan potensi takwa sambil menekan hawa nafsu. Manusia diciptakan Allah SWT dengan dua potensi yang saling berlawanan. Potensi yang pertama adalah takwa, sedangkan potensi yang lainnya disebut nafsu. Takwa akan membawa manusia kepada kebaikan. Sementara, nafsu cenderung mengantarkan mereka kepada keburukan.

Dalam satu hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Hendaklah kamu bertakwa, karena ia (takwa) adalah kumpulan segala kebaikan. Dan hendaklah kamu berjihad, karena ia (jihad) adalah sikap kerahiban seorang Muslim. Dan hendaklah kamu selalu berzikir menyebut asma Allah, karena ia (zikir) adalah cahaya bagimu," (HR Ibnu Dharris dari Abu Said al-Khudhari).

Allah SWT berfirman, "(Yusuf berkata) Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS Yusuf [12]: 53).

Kedua dalil di atas menunjukkan dengan gamblang perbedaan antara sifat-sifat takwa dan nafsu. Untuk menjadi manusia yang mulia, kita dituntut untuk senantiasa mengembangkan po tensi takwa sambil menekan ha wa nafsu yang ada dalam diri kita.

Topik itulah yang menjadi fokus pembahasan Ustaz Adi Hidayat saat menyampaikan khutbah Idul Adha 1438 H di Masjid al- Anshor Kompleks Bumi Satria Kencana (BSK) Bekasi, Jawa Barat, pekan lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia menuturkan, Hari Raya Idul Kurban sudah selayaknya menjadi momentum bagi kaum Muslim untuk melakukan introspeksi terhadap diri masing-masing.

"Mari kita renungkan kembali, manakah sifat-sifat yang selama ini dominan di dalam diri kita? Takwa atau nafsu? Jika nafsu yang masih dominan, itu artinya kita belum berhasil menekan sifat-sifat hewan yang ada dalam diri kita," ujarnya.