Jumat , 21 July 2017, 12:49 WIB

Erdogan: Pembatasan Muslim ke Al-Aqsha tak Dapat Diterima

Rep: KAMRAN DIKARMA/ Red: Ilham Tirta
AP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Kamis (20/7), membahas ketegangan yang kian meningkat di kompleks Masjid Al-Aqsha dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas via telepon. Erdogan menyatakan keprihatinannya atas insiden dan tindakan yang baru-baru ini diambil Israel.

Erdogan mengatakan, pembatasan akses terhadap Muslim yang hendak beribadah ke Masjid Al-Aqsha tidak dapat diterima. "Setiap pembatasan terhadap umat Islam yang memasuki Masjid Al-Aqsha tak dapat diterima. Perlindungan karakter dan kesucian Islam Al-Quds (Yerusalem) dan Al-Haram al-Sharif (Kompleks Al-Aqsha) penting bagi seluruh dunia Muslim," ujarnya seperti dilaporkan Middle East Monitor.

Erdogan juga dikabarkan telah menghubungi Presiden Israel Reuven Rivlin. Pertama-tama, ia mengungkapkan penyesalannya atas insiden penyerangan terhadap polisi Israel yang menyebabkan dua personelnya tewas pada Jumat pekan lalu. Insiden itu terjadi tepat di luar kompleks Masjid Al-Aqsha.

Namun, Erdogan pun menegaskan tidak sepatutnya umat Islam dibatasi untuk beribadah di Masjid Al-Aqsha karena insiden penyerangan tersebut. Umat Islam, kata Erdogan, harus diberi akses tanpa batas ke Masjid Al-Aqsha sebagai bentuk kebebasan beragama dan beribadah.

Namun Rivlin mengatakan, tidak ada pembatasan terhadap Muslim yang ingin beribadah di Al-Aqsha. Adapun pemasangan detektor logam, kata dia, dimaksudkan untuk tujuan keamanan. Rivlin meyakinkan Erdogan bahwa tidak akan ada perubahan status terhadap kompleks Masjid Al-Aqsha.

Pada Jumat pekan lalu, tiga warga Palestina tewas ditembak oleh personel kepolsian Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa. Sebelumnya, ketiganya menyerang aparat keamanan Israel yang tengah berjaga di dekat masjid tersebut. Dua polisi Israel tewas akibat serangan itu.

Pascainsiden, Israel segera menutup Masjid Al-Aqsha. Ibadah shalat Jumat hari itu juga ditiadakan secara sepihak oleh Israel. Hal ini menyebabkan Muslim harus menunaikan shalat Jumat di luar kompleks Al-Aqsha.

Israel menutup Masjid Al-Aqsha hingga Ahad (16/8). Pada Ahad, aparat keamanan Israel menempatkan detektor logam bagi jamaah Muslim yang hendak masuk ke masjid tersebut. Pemasangan detektor itu memicu bentrokan antara warga Palestina dengan polisi Israel pada Senin (17/7) malam, waktu setempat. Sekitar 54 warga Palestina terluka dalam bentrokan tersebut.