Sabtu , 15 Juli 2017, 08:16 WIB

Umat yang Takwa

Red: Agung Sasongko
alifmusic.net
Takwa (ilustrasi).
Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap manusia adalah pe mim pin. Paling sederhana, pe mim pin dalam lingkungan keluarga. Amanah yang dititipkan Allah SWT kepada kita ini akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. "Bahwa setiap ka lian adalah pemimpin dan ke lak akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kalian." (HR Muslim).

Untuk membentuk komunitas, organisasi, perusahaan hing ga negara, manusia pun meng ang kat seorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin. Toreh an sejarah mencatat beragam cara untuk menjadi pemimpin. Dari pemimpin yang diwariskan melalui keturunan, pemimpin re volusi, pemimpin yang dipilih oleh perwakilan rakyat, hingga pemimpin yang dipilih langsung rakyat. Terlepas dari bagaimana cara pemimpin dipilih, Allah SWT berfirman kepada manusia untuk menaati pimpinan.

Perintah ini tertulis di dalam QS an-Nisa:59. "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul (Nya) dan ulil amri (pe mimpin) di antara kamu. Kemu dian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul (su nahnya). Jika kamu beriman kepa da Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

Berkenaan dengan turunnya ayat ini, Imam Ibnu Katsir me nge tengahkan sebuah hadis dari Ibnu Jarir yang dirawikan oleh Abu Hurairah. Nabi SAW bersabda, "Kelak sesudahku, kalian akan diperintah oleh para pe mim pin, ada pemimpin yang ber takwa memimpin kalian dengan ketakwaannya dan ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya. Maka, tunduk dan patuhlah kalian ke pada mereka dalam semua per ka ra yang sesuai dengan kebenaran dan bantulah mereka. Jika mere ka berbuat baik, kebaikannya bagi kalian dan mereka. Dan, jika mereka berbuat buruk, baik bagi kalian dan buruk bagi mereka."

Pemimpin yang bertakwa tidak timbul tiba-tiba. Dia hanya muncul dari masyarakat yang ju ga bertakwa. Seperti apa yang di katakan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziy bahwa hikmah Allah SWT untuk memilih para raja, pe mimpin, dan pelindung umat ma nusia adalah sama dengan amal an rakyatnya. Perbuatan rakyat adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lu rus, akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, akan adil pula penguasa mereka. Na mun, jika rakyat berbuat zalim, penguasa mereka akan ikut ber buat zalim.