Selasa , 11 July 2017, 21:00 WIB
Mengenal Ilmuwan Muslim

Jantung Filsafat Politik Al Farabi

Red: Agung Sasongko
muslimheritage
filsuf Islam, al Farabi
filsuf Islam, al Farabi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Dalam muslimphilosophy disebutkan, di jantung filsafat politik Al  Farabi adalah konsep kebahagiaan (Sa'ada). Berbudi luhur masyarakat (al ijtima 'al fadil) didefinisikan sebagai kerja sama untuk mendapatkan kebahagiaan.

Kota saleh (al madinah al fadila) adalah salah satu di mana ada kerja sama dalam mencapai kebahagiaan. Berbudi luhur dunia (al ma'mura al fadila) hanya akan terjadi ketika semua penyusun bangsa berkolaborasi untuk mencapai kebahagiaan .

Dalam pandangan Plato dan Aristoteles, kebahagiaan tertinggi hanya bisa diperoleh oleh mereka yang philosophized dengan cara yang benar. Al Farabi mengikuti paradigma Yunani, dan menurutnya pangkat tertinggi kebahagiaan dialokasikan untuk berdaulat ideal yang jiwanya adalah “bersatu seolah-olah dengan intelek aktif”.

Oleh karena itu, menurut Black, Farabi menjabat sebagai sumber yang luar biasa dalam aspirasi intelektual dari abad pertengahan dan membuat kontribusi besar terhadap pengetahuan pada zamannya. Ia membuka jalan bagi filsuf setelahnya dan para pemikir dunia Muslim.

“Sulit untuk menemukan seorang filsuf, baik di dunia Muslim dan Kristen dari abad pertengahan dan seterusnya yang belum dipengaruhi oleh pandangannya,” ujar Black.

Sebagian karya Al Farabi juga membahas permasalahan politik. Di antaranya, ihsha' al-ulum dan tahsil al-sa'adah. Ia juga menyusun Ringkasan-Ringkasan Hukum Plato. Di usia yang tidak lagi muda, Al Farabi diundang ke istana imamiyyah dari Dinasti Hamdaniyah di Aleppo.

Sejak itu ia pun masuk dalam kehiduapan istana. Kemudian, dari 942 hingga 950 ia menyusun karya besarnya tentang politik: (1) “Al Madinah Al Fadhilah” (Pandangan Utama Penduduk Kota Utama), (2) “Al Siyasah Al Madaniyyah” (Pemerintahan Negara), (3) “Fushul Al Madani” (Aforisme-Aforisme Negarawan) yang disusun setelah membaca buku Negarawan karya plato.