Jumat , 16 June 2017, 20:13 WIB

Jadikan Masjid Istiqlal Sebagai Simbol Toleransi Beragama

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
Republika/Agung Supriyanto
Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin Umar ingin menjadikan Masjid Istiqlal sebagai simbol toleransi dalam beragama di Indonesia. Ia berharap, masjid Istiqlal bisa menyelesaikan berbagai persoalan di Indonesia dan memperkuat kebinekaan.

"Saya ingin mengajak, mari jadikan istiqlal sebagai simbol kebebasan umat beragama. Simbol perbebasan orang tertindas, simbol toleransi semua agama, simbol pencerahan yang gelap, mari selesaikan persoalan di istiqlal, jangan melahirkan persoalan," ujarnya dalam Dialog Budaya di Masjid Istiqlal, Jumat (16/6).

Masjid Istiqlal dibangun berdampingan dengan Gereja Katederal. Menurut dia, selama ini, jamaah dari dua rumah ibadah tersebut selalu menjaga toleransi. Bahkan, dari hal-hal kecil sekalipun seperti masalah parkiran kendaraan. "Tetangga kami, Katedral, silakan pakai parkirnya. Kami juga Idul Fitri minjam parkir katedral," ucapnya. 

Ia mengatakan, di kalangan tokoh agama sebenarnya tidak ada masalah terkait perbedaan keyakinan. Namun, menurut dia, umat kadang sangat riskan diaduk-aduk oleh orang yang berkepentingan. "Hati nurani itu hanya satu. Saudara kita yang beragama lain persis organnya dengan kita, sama. Nuraninya juga sama. Nikmat itu Bhinneka Tunghal Ika. Mari kita meyarahkan perbedaan jangan meratapi perbedaan," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, hal senada juga disampaikan Pendeta Gereja Immanuel, Melkisedek Puimera. Menurut dia, di kalangan atas tidak ada masalah terkait segala macam perbedaan. Namun, menurut dia, di kalangan umat beragama perlu dibangun budaya dialog agar kebhinnekaan terus terjaga.

"Di kalangan atas sebenarnya tidak ada apa-apa, tapi di kalangan bawah ini perlu dialog juga. Dialog harus menjadi budaya," jelas dia saat berbincang dengan Republika.co.id.