Selasa , 13 Juni 2017, 04:51 WIB

Teladan Sang Tameng Rasulullah SAW

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
historia
Pasukan Muslim/ilustrasi
Pasukan Muslim/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak sebagai Muslim, Abu Sufyan bin Harits banyak menghabiskan hari-harinya untuk beribadah kepada Allah. Dengan pe nuh semangat, ia bergabung bersama pasukan Muslim dalam peperangan yang terjadi sesudah Fathu Makkah. Misalnya, Perang Hunain yang terjadi ketika kaum Musyrik dari suku-suku badui menjebak pasukan Muslim dan menghujani mereka dengan anak panah.

Rasulullah tetap tegar dan tidak beranjak dari kedudukannya. Wahai sekalian manusia, saya ini nabi dan tidak pernah berdusta! Saya adalah keturunan Abdul Muthalib! seru Nabi SAW. Pasukan Muslim yang sempat kocarkacir akhirnya merapatkan barisan dan merangsek maju begitu mendengar seruan dari Rasulullah itu.

Beberapa orang sahabat menjadi tameng pelindung bagi Rasulullah. Di antaranya adalah Abu Sufyan bin Harits dan anak nya, Ja'far. Saat itu, Abu Sufyan memegang tali kekang kuda yang dinaiki Rasulullah. Dengan tetap fokus pada keselamatan Rasululllah, ia terus menebas musuh-musuh Allah satu per satu di ajang Perang Hunain itu.

Di antara suara kelabat pedang dan gemuruh selimut debu, Rasulullah mendapati Abu Sufyan bersama-sama sahabat lainnya. "Siapakah ini, oh, saudaraku sendiri, Abu Sufyan bin Harits! kata Nabi Muham mad. Betapa gembira hati Abu Sufyan mendengarkan pujian dari Rasulullah kepadanya itu. ed: nashih nashrullah

Tak Takut Datangnya Kematian

Abu Sufyan tetap menjalani usianya setelah Rasulullah wafat. Sepeninggal Rasulul lah, hampir semua sahabat di rundung dukacita berkepanjangan. Bahkan, ada kerinduan yang kuat untuk segera menyusul Nabi Muhammad ke negeri akhirat.

Bagi Abu Sufyan, kematian bukanlah sama sekali untuk ditakutkan. Kematian merupakan titik jeda yang mengantarkan diri menuju alam akhirat yang lebih baik. Betapa rendah ha tinya Abu Sufyan dalam menghadapi kematian. Sebuah riwayat menyebutkan, Abu Sufyan kedapatan sedang menggali tanah di Baqi'.

Orang-orang yang melihatnya kemudian mendekatinya. Saya sedang menyiapkan liang lahat untuk saya sendiri, kata Abu Sufyan menjawab pertanyaan mereka. Tiga hari kemudian, kesehatan fisik Abu Sufyan semakin menurun. Ia tidak bisa melakukan apa pun kecuali dengan bergerak dari atas kursi roda. Namun, semangatnya untuk terus memperbaiki diri seakan tidak berkesudahan.

Janganlah kelak kalian menangisiku karena semenjak masuk Islam, tidak sedikit pun dari mereka tahu apakah aku berlumuran dosa, kata Abu Sufyan. Dengan pernyataan lain, Abu Sufyan merasa bersyukur karena dengan masuk Islam, berarti ia telah menyucikan diri dari dosa-dosa yang telah lalu. Kini, hidupnya lebih punya arah yang jelas.