Jumat , 09 June 2017, 22:11 WIB

Kemuliaan Utsman bin Affan

Rep: Irwan Kelana/ Red: Agung Sasongko
Cukuplah pesan Rasulullah kepada Ruqayyah (putrinya yang menjadi istri Utsman) menjadi bukti kemuliaan Utsman,
Cukuplah pesan Rasulullah kepada Ruqayyah (putrinya yang menjadi istri Utsman) menjadi bukti kemuliaan Utsman, "Muliakanlah ia, karena ia termasuk sahabatku yang akhlaknya paling mirip denganku."

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Utsman bin Affan Radhiallahu 'anhu (RA) adalah khalifah ketiga dari Khulafaur Rasyidin. Ia merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dan khalifah yang mempunyai banyak keutamaan. Utsman merupakan menantu Nabi SAW (Utsman menikahi dua putri  Rasulullah SAW), penulis wahyu, banyak berjasa dalam perjuangan Islam dari awal muda dakwah.

Utsman memperoleh cinta Allah dan Rasul-Nya. Utsman tidak hadir pada saat Baiturridhwan, maka Rasulullah SAW menggunakan tangan kanan beliau yang mewakili Utsman dan membaiatnya dengan tangan Rasul yang lainnya.

Namun, ada sejumlah pihak sejak zaman Khulafaur Rasyidin memerintah umat Islam, bahkan hingga kini, yang menuduh Utsman bin Affan dengan tudingan yang tidak benar atau tidak berdasar. Misalnya, mereka menuduh Utsman bin Affan sebagai orang yang tidak adil, diktator, berbuat zalim, nepotisme, korupsi, dan tuduhan buruk lainnya.

Buku yang ditulis oleh Fariq Gasim Anuz–seorang dai yang juga penulis produktif–ini mencoba memberikan pembelaan terhadap Khalifah Utsman yang terzalimi. Penulis menggali informasi dari berbagai kitab untuk meng-counter tuduhan-tuduhan tidak benar yang dialamatkan kepada Khalifah Utsman.

Tak hanya itu, pada saat bersamaan, penulis membuka tabir mengenai berbagai kemuliaan Utsman bin Affan yang selama ini sangat boleh jadi tidak diketahui atau kurang diketahui oleh sebagian besar umat Islam. Dalam hal ini, penulis mengutamakan pelajaran dari nilai-nilai akhlak yang mulia agar kaum Muslimin dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis membagi bukunya menjadi 36 bab. Meski penulis belum mampu memaparkan seluruh kemuliaan Utsman bin Affan, sebanyak 36 bab itu cukuplah membuka mata hati pembaca tentang keutamaan dan kemuliaan Utsman bin Affan RA.

"Bagaimana mungkin jiwa ini tidak memiliki rasa malu kepada Utsman, sementara Rasulullah SAW dan malaikat saja malu kepadanya? Kabar gembira dari Rasulullah SAW berupa Jannah untuk Utsman menambah panjang catatan emas tentang sosok khalifah yang terzalimi ini." (hlm 41).

Keimanan dan ketakwaannya menjadikannya seorang darmawan tanpa batas. Sifat malunya kepada Allah menjadikan Utsman bagaikan singa di siang hari berjuang membela agama Allah dan menghabiskan malamnya dengan banyak ibadah.

Kedermawanan Utsman sangat termasyhur. Ia membeli sumur Raumah seharga 12.000 dirham untuk diwakafkan kepada kaum Muslimin (hlm 73). Menjelang Perang Tabuk tahun 9 H, Utsman menyumbang 940 unta, 60 kuda, dan seribu dinar emas (hlm 77). Ia berinfak kebutuhan pokok kaum Muslimin yang diangkut 1.000 unta (hlm 78).  

Thalhah bin Ubaidillah pernah berutang 50 ribu dirham kepada Utsman. Ketika suatu hari dia hendak melunasinya, Utsman mengatakan bahwa piutang tersebut sudah dia hibahkan kepada Thalhah. "Utsman termasuk salah satu ahli ibadah. Dia gemar berpuasa di siang hari, bertahajud di malam hari, dan banyak membaca Alquran. Beliau konsisten dan istiqamah menjalankan itu semua sampai akhir hayatnya dalam usia delapan puluh dua tahun." (hlm 63).

Cukuplah pesan Rasulullah kepada Ruqayyah (putrinya yang menjadi istri Utsman) menjadi bukti kemuliaan Utsman, "Muliakanlah ia, karena ia termasuk sahabatku yang akhlaknya paling mirip denganku."