Jumat , 09 June 2017, 13:38 WIB

Umamah Tumbuh di Bawah Cahaya Wahyu

Red: Agung Sasongko
Muslimah
Muslimah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehidupan sahabat perempuan ini memang kurang terekam sejarah. Padahal, ia adalah cucu perempuan pertama Rasulullah SAW. Sosok itu adalah Umamah binti Abu Al ‘Ash Ibn Ar Rab’i. Ia merupakan putri Zainab binti Muhammad. Ia banyak mewarisi sifat istimewa dari sang ibu.

Umamah dikenal cerdas, lembut, dan keibuan. Kematangan pribadi itu tak terlepas dari asuhan langsung sang kakek, Muhammad. Semasa kecil, tak segan Rasulullah menggendong dan membawa cucu kesayangannya ini.

Pemandangan itu pun sering disaksikan langsung oleh para sahabat. Rasul pernah tertangkap mata tengah menggendong Umamah keluar rumah. Cucu perempuannya itu digendong dan diasuh sendiri sembari bercengkerama dengan para sahabat. Demikian juga kala shalat. Tubuh mungil Umamah, tak terlepas begitu saja dari dekapan sang kakek.

Riwayat Muslim dari Abu Qatadah Al Anshari menguatkan itu. Qatadah berkata, ‘’Saya melihat Nabi SAW menjadi imam shalat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Abu Al Ash, di atas pundaknya. Apabila ruku, Rasul meletakkan anak itu, dan apabila berdiri dari sujud mengembalikannya (maksudnya menggendongnya kembali).’’

Sikap Rasulullah itu membuat heran masyarakat Arab. Tradisi yang berlaku di mereka, mengasuh dan menyentuh anak perempuan adalah tabu. Menurut Al Fakhani, tampaknya Rasulullah ingin menunjukkan bahwa anak perempuan juga memiliki hak dan martabat yang sama dengan anak laki-laki. Para putri-putri itu juga berhak atas kasih sayang orang tua, kakek-nenek, dan lingkungannya.

Kasih sayang Rasulullah kepada Umamah menarik perhatian keluarga Nabi. Tak terkecuali para istri. Alkisah, Rasulullah mendapatkan hadiah seuntai kalung. Menurut dia, pemberian itu akan diserahkan pada sosok yang paling dicintai, tanpa menyebut nama. Misteri ini mem buat segenap keluarga bertanya-tanya. Siapa gerangan? Nama Aisyah digadang-gadang.

Ternyata, sosok yang dimaksud ialah Umamah. Kalung itu akhirnya dikenakan di leher sang cucu. ‘’Berhiaslah dengan ini, wahai putriku,’’ kata Rasulullah sambil membersihkan hidung Umamah yang kotor. Pilihan ini di luar dugaan para istri Nabi.

Meskipun tidak sampai dewasa bersama kakeknya, Umamah sangat beruntung mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana perangai, ke seharian kakeknya yang menjadi panutan umat di dunia.