Rabu , 17 May 2017, 11:13 WIB

Muslim Harus Sadar Agama Itu Identitas Politik

Red: Agung Sasongko
washingtonpost
Muslim Bosnia
Muslim Bosnia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Belajar dari pengalaman sejarah dunia, agama sudah terbukti menjadi salah satu identitas politik. Alhasil, dalam praktiknya sepanjang peradaban agama itu sebenarnya tak bisa terlepas dari politik.

‘’Belajarlah dari pengalaman apa yang terjadi dalam perkembanga Islam dan agama lainnya, khususnya dalam wilayah Balkan dan di Eropa pada umumnya. Meski berusaha keras diingkari tapi agama di wilayah itu jelas sekali sudah menjadi identitas politik,” kata Ketua Umum HIMPUH, Baluki Ahmad, ketika menceritakan pengalamannya saat melakukan kunjungan ke berbagai negara di wilayah Balkan, kepada Republika.co.id, Rabu (17/5).

Baluki mengatakan, bahkan telah pula menjadi fakta sejarah, meski agama berusaha ditindas dan dihilangkan keberadaaannya pada sebuah masyarakat, maka usaha ini tetap tidak mampu membuahkan hasil. Keyakinan agama itu seperti rumput yang mungkin saja kering ketika tak diurus, tapi akan muncul kembali setelah musim yang tepat datang menghampirinya.

‘’Kenyataan ini nyata terjadi ketika negara yang anti agama seperti Islam di Yugoslvaia di masa Yoseph Broz Tito atau Islam di masa rezim komunis Uni Sovyet. Agama Islam di negara tersebut ditindas hampir selama 100 tahun, tapi begitu rezim tumbang maka agama ini bangkit kembali. Dan situasi ini juga tak hanya melanda Islam, tapi juga melanda agama lain, yakni Katolik dan Krsiten Ortodok,’’ ujarnya.

Menyadari hal itu, disamping harus merasa punya kepercayaan diri, maka umat Islam di Indonesia juga harus terus bersikap hati-hati agar tidak mudah terhasut oleh berbagai sikap yang negatif yang begitu semarak muncul di masa sekarang ini. Pesannya adalah agar jangan mudah terpancing sehingga dengan gampang menari di atas ‘pukulan gendang’ orang lain.

‘’Sadarlah itu. Pengamalan pahit Muslim di Bosnia dijadikan contohnya. Sebelum terjadi pembantaian massal, kondisi negara itu terpecah-pecah, umat Islam pun tak bisa menyatukan pandangan. Maka ketika ada ancaman kekerasan yang konkrit mereka menjadi tak bisa mengantipasinya dengan baik. Perang pun terjadi dan korban berjatuhan,’’ tegas Baluki.