Selasa , 09 Mei 2017, 15:15 WIB

Wunsdorf, Lokasi Berdirinya Masjid Pertama di Jerman

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Masjid di Jerman.
Masjid di Jerman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak ada masjid di Kamp Wunsdorf. Meski faktanya, di wilayah inilah masjid pertama ber diri di Jerman pada 1915 sebagai strategi me manfaatkan para pemuda Muslim untuk ber juang bersama Jerman pada Perang Dunia I. Di tengah kecamuk Perang Dunia I itu, aristokrat Jerman, Max von Oppenheim me nyodori Kaisar Wilhelm II sebuah rencana.

Untuk meningkatkan peluang Jerman memenangkan perang, menurut Oppenheim, Jerman harus memanfaatkan tentara Muslim dari Rusia, Inggris, dan Prancis dengan menjamin praktik keyakinan agama mereka sehingga mereka mau bergabung dengan Jerman melawan tentara Rusia, Inggris, dan Prancis yang ber sekutu.

Pada 1914, Oppenheim menulis, "Dalam perlawanan terhadap Inggris, Islam akan jadi salah satu senjata penting kami.''

Rencana pembentukan aliansi Jerman dan Turki Utsmani pun secara resmi dinyatakan SultanTurki Mehmed V tak lama setelah perang pecah. Dari sebuah masjid di Konstantinopel, Sultan Mehmed V mengumumkan bahwa Ing gris, Prancis, dan Rusia merupakan musuh Islam. Sultan juga mengajak semua Muslim untuk melawan penjajahan yang dilakukan tiga negara itu.

Pada tahun yang sama, dua kamp tahanan perang dibangun di Wunsdorf dan Zossen. Halbmondlager Wunsdorf (Kamp Bulan Sabit) diisi 5.000 tahanan yang mayoritasnya Muslim. Sementara, Kamp Tahanan Zossen menam pung 12 ribu tahanan.

Para tahanan yang ditangkap dari Pasukan Sekutu umumnya berasal dari koloni India dan Afrika seperti Crimea, Kazan, dan Kaukasus. Kala itu, Kamp Wunsdorf tidak terlalu padat dan dikelola sipir yang ramah. Sang sipir mem beri kebebasan kepada tahanan untuk melak sanakan ajaran agama mereka. Bahkan, pada Ramadhan 1915, sebuah masjid berdiri di Kamp Wunsdorf lengkap dengan mihrab dan menara.

Kala itu, Jerman melihat Islam sebagai alat untuk mencapai tujuan politik dan militernya. "Jerman yang justru mengawasi apakah para tahanan Muslim menjalankan praktik agama mereka atau tidak,'' kata Guru Besar Near Eastern Archaeology, Free University of Berlin, Reinhard Bernbeck.

Jerman pula yang menyemangati para tahanan Muslim untuk getol shalat lima waktu. Khutbah Jumat dipolitisasi dan sebuah surat kabar bernama al-Jihad sengaja diedarkan di Kamp Wunsdorf sebagai alat propaganda. Jer man juga menghiasi masjid Kamp Wunsdorf sedemikian rupa untuk mengingatkan para tahanan akan kejayaan peradaban Islam ter masuk kaligrafi yang menyeru ambil bagian dalam perang suci.

Dengan segala perhitungan yang dilakukan, pada akhirnya hanya sedikit tahanan Muslim dari kamp-kamp Jerman yang terjun ke medan perang melawan Sekutu. Proyek buatan Jerman ini pun gagal total. Setelah 15 tahun berdiri, Masjid Kamp Wunsdorf pun dirobohkan.

Kamp Wunsdorf berdiri di samping Moscheestrasse (Jalan Masjid). Itulah memori tentang Islam yang masih tersisa di kota yang kini berpenduduk 2.485 jiwa itu. Nama jalan itu hanya satu-satunya di seluruh Jerman. Se olah menggambarkan hubungan Jerman de ngan Islam, panjang jalan ini hanya 100 meter dengan ujung buntu.

Wunsdorf memainkan peran strategis da lam banyak momen bersejarah Jerman. Sejak akhir Perang Dunia II hingga 1994, Wunsdorf menjadi Pusat Komando Tentara Soviet di Jerman. Ada sekitar 35 ribu tentara Soviet yang ditempatkan di sana bersama keluarga mereka. Karena itu, daerah ini juga terkenal dengan sebutan Moskow Kecil