Kamis , 20 April 2017, 19:31 WIB
Belajar Kitab

Inspirasi Ibnu Thufail Menulis Hayy ibn Yaqzhan

Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Ilustrasi Kitab Kuning
Ilustrasi Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Tentu tak berlebihan jika dikatakan Hayy ibn Yaqzhan karya Ibnu Thufail sebagai roman filsafat paling unik dalam sejarah keilmuan Islam. Buku tersebut membahas tema-tema yang rumit, namun dijelaskan dengan bahasa dan analogi-analogi yang sederhana. Siapa pun dapat dengan mudah memahaminya.

Ibnu Thufail menerangkan bahwa manusia mempunyai potensi untuk mengenal Tuhan dengan cara melihat, memikirkan, dan merenungkan alam semesta. Meskipun Hayy ibn Yaqzhan tidak terpengaruh oleh kebiasaan dan cara berpikir lingkungan sosial, toh ia mampu mengungkap persoalan hubungan antara manusia, akal, dan Tuhan.

Bagaimanakah Ibnu Thufail mendapatkan inspirasi menulis karya besarnya itu?

Di masa tuanya, Ibnu Thufail menghabiskan hari-harinya untuk berkontemplasi dan mendalami bidang filsafat. Di dalam perenungannya itu ia mendapati bahwa perkembangan pemikiran manusia, sesuai dengan fitrah primordialnya, dapat mencapai pengetahuan tentang hakikat Tuhan.

Namun demikian, Ibnu Thufail, yang dikenal di Barat dengan sebutan Aben Tofail atau Ebn Tophail, tidak lepas pula dari pengaruh filosof-filosof besar yang mendahuluinya. Di dalam roman itu, Ibnu Thufail menyebut beberapa nama yang diakuinya telah mencapai derajat kesufian yang sempurna. Di antaranya Ibnu Sina dan Abu Hamid Al-Ghazali.

Sebenarnya, Ibnu Thufail adalah seorang dokter. Namun, ia juga punya pengetahuan mendalam di bidang hukum, politik, fisika, dan filsafat. Ia lahir pada 500 H/1106 M di kota kecil bernama Wadi Asy (dalam sebutan Latinnya Guadix), 60 kilometer sebelah timur laut Granada, Spanyol. Nama panjangnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Tufail al-Andalusi al-Qisi.

Pengembaraan keilmuan sang filosof diawali dengan ketekunannya mendalami ilmu kedokteran. Ia pernah menjabat sebagai wazir (pejabat kerajaan setingkat menteri) di Granada. Sejak saat itu ia masuk dalam lingkaran kekuasaan hingga namanya dikenal baik di Dinasti Muwahhidun di Maroko.

Pada 1163 M, Ibnu Thufail diangkat sebagai dokter dan penasihat pribadi Abu Ya'qub Yusuf, khalifah Dinasti Muwahhidun. Ia memegang jabatan itu selama kurang lebih 20 tahun. Pada penghujung 1182 M, ia mengundurkan diri dari pemangku jabatan penasihat pribadi raja karena usianya yang semakin uzur. Meski demikian, ia masih menjalankan kewajibannya sebagai dokter.

Kedudukannya itu kemudian digantikan oleh Ibnu Rusyd, seorang filsuf Muslim agung dari Andalusia. Tiga tahun setelah mengundurkan diri dari kerajaan, yaitu pada 1185, sang dokter yang juga filsuf ini menghembuskan napas terakhir di Kota Marakesh, Maroko, dan dikebumikan di sana.

Ibnu Thufail meninggalkan sejumlah karya intelektual yang sebagian besar telah hilang. Yang tersisa hanya roman filsafat Hayy ibn Yaqzhan dan beberapa penggalan karya sastra. Naskah lengkap Hayy ibn Yaqzhan telah luas beredar di Timur Tengah. Semoga upaya menggali pesan-pesan universal di dalamnya kembali menggeliat di kalangan umat Islam.